Mengenal Refugia sebagai Alternatif Pengendalian Hama

oleh

HKTI.ONLINE – Saat ini sudah banyak Dinas Pertanian di daerah-daerah yang mengimbau kepada petani untuk menanam bunga di sekeliling lahan pertanian garapan. Penanaman bunga yang dikenal dengan sistem refugia ini diyakini mampu membantu membebaskan tanaman padi dari Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) atau hama.

Banyak bunga atau tanaman yang dapat berfungsi sebagai refugia di antaranya kenikir, bunga dewandaru, bunga matahari, dan lainnya. Bunga-bunga itu berfungsi sebagai rumah musuh alami (predator) hama tanaman padi.

Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan refugia tersebut? Dalam laman bbppketindan.bppsdmp.pertanian.go.id, Alfa Aliffia Pradikta, SP, menjelaskan tentang refugia ini dengan cukup jelas.

Menurutnya, dewasa ini petani cenderung menggunakan pestisida sintetis secara berlebihan, berharap serangan OPT (organisme penggangu tanaman) segera berkurang atau musnah. Usaha pengendalian hama tersebut semata-mata hanya ditujukan untuk memusnahkan organisme pengganggu tanaman, tanpa memperhatikan kaidah-kaidah ekologi seperti keseimbangan dan kestabilan ekosistem. Oleh karena itu cara pengendalian hama semacam ini harus segera ditinggalkan dan beralih ke konsep pengelolaan hama yang berwawasan ekologi (Mahmud T. 2006).

Kurangnya pengetahuan masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan akibat penggunaan bahan kimia, mendorong para peneliti di bidang pertanian untuk mengembangkan teknik pengendalian OPT yang berbasis lingkungan, dan diharapkan tetap menjaga kelestarian agroekosistem di lapangan, dengan merunut kepada prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

PHT menitikberatkan pemanfaatan berbagai teknik pengendalian yang dikombinasikan dalam satu kesatuan program, sehingga dicapai keuntungan ekonomi yang maksimal, dan memberikan dampak yang aman bagi pekerja, konsumen dan lingkungan hidup. Secara prinsip, berbagai cara pengendalian diterapkan harus secara teknis efektif dan dapat diterapkan, secara ekonomi menguntungkan, secara ekologi aman dan secara sosial budaya dapat diterima[Prabaningrum 2015].

Pengendalian hama dengan cara bercocok tanam seperti pemanfaatan tanaman pinggir atau ada yang menyebutnya dengan tanaman perangkap, dapat mendorong stabilitas ekosistem sehingga populasi hama dapat ditekan dan berada dalam kesetimbangannya. Jenis tanaman pinggir yang dipilih harus mempunyai fungsi ganda yaitu, disamping sebagai penghalang masuknya hamake pertanaman pokok, juga sebagai tanaman refugia yang berfungsi untuk berlindung sementara dan penyedia tepung sari untuk makanan alternatif predator, jika mangsa utama populasinya rendah atau tidak ada di pertanaman pokok. Teknik bercocok tanam seperti penanaman tanaman pinggir dapat mendorong konservasi musuh alami seperti predator (Mahmud T. 2006).

Tanaman Refugia dan Jenisnya

Menurut para ahli definisi refugia adalah pertanaman beberapa jenis tumbuhan yang dapat menyediakan tempat perlindungan, sumber pakan atau sumberdaya yang lain bagi musuh alami seperti predator dan parasitoid ((Nentwig, 1998; Wratten et al., 1998) dalam Allifah et.al2013 dan Pertiwi 2014)). Refugia berfungsi sebagai mikrohabitat yang diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam usaha konservasi musuh alami.

Letourneaua et al., (2003) dalam Allifah et.al2013 dan Pertiwi (2014), mengemukakan bahwa alternatif habitat pada agroekosistem dapat dilakukan dengan pengelolaan gulma. Hal ini akan berdampak pada dinamika serangga dan meningkatnya peluang lingkungan musuh alami dalam pengendalian hama biologis.

Dengan kata lain bahwa refugia adalah tumbuhan (baik tanaman maupun gulma) yang tumbuh di sekitar tanaman yang dibudidayakan, yang berpotensi sebagai mikrohabitat bagi musuh alami (baik predator maupun parasitoid), agar pelestarian musuh alami tercipta dengan baik. Bagi musuh alami, tanaman refugia ini memiliki banyak manfaat diantaranya adalah sebagai sumber nektar bagi musuh alami sebelum adanya populasi hama di pertanaman. Suatu konsep pemecahan masalah yang dapat diterapkan dalam pengendalian hama adalah dengan cara menanam tanaman yang digunakan sebagai refugia sehingga konservasi predator dapat terus terjaga (Pertiwi 2014).

Tanaman yang berpotensi sebagai refugia

Banyak tanaman yang dapat berfungsi sebagai refugia seperti tanaman hias, gulma, sayuran, dan Tumbuhan liar yang ditanam atau yang tumbuh sendiri di areal pertanaman.

Beberapa penelitian menyebutkan jenis tanaman hias yang berpotensi sebagai refugia antara lain bunga matahari (Helianthus annuus), bunga kertas zinnia (Zinnia peruviana), (Zinnia acerosa), (Zinnia bicolor), (Zinnia grandiflora), (Zinnia elegans), kenikir (Cosmos caudatus) dan lain-lain.

 

Bunga Matahari

Gulma yang selama ini terkesan sebagai tanaman pengganggu ternyata bisa dijadikan refugia. Terutama yang berasal dari famili asteraceae seperti babadotan (Ageratum conyzoides), Ajeran (Bidens pilosa L.), Bunga tahi ayam (Tagetes erecta).

Babadotan

Tumbuhan liar yang sengaja ditanam atau tumbuh dengan sendirinya di area pertanaman antara lain, bunga legetan (Synedrella nodiflora), pegagan (Centella asiatica), rumput setaria (Setaria sp.), rumput kancing ungu (Borreria repens), dan kacang hias atau kacang pentoi (Arachis pentoi).

Kacang pentoi

Sayuran yang berpotensi sebagai refugia sekaligus bahan pangan antara lain kacang panjang (Vigna unguiculata ssp. sesquipedalis), bayam (Amaranthus spp.) (Tanpa nama 2016 dan Sinar Tani 2016), jagung (Zea mays) (Pujiastuti et. al2015).

Kacang panjang

Syarat Menanam Tanaman Refugia

Tanaman yang dijadikan sebagai refugia sebaiknya dipilih yang memenuhi kriteria, antara lain, tanaman yang memiliki bunga dan warna yang mencolok, regenerasi tanaman cepat dan berkelanjutan, benih atau bibit mudah diperoleh, mudah ditanam, dapat ditumpang sarikan dengan tanaman pematang lain.

Manfaat Tanaman Refugia

Serangga musuh alami seringkali memerlukan tempat berlindung sementara sebelum menemukan inang atau mangsanya. Penanaman tanaman di pinggir lahan dapat dilakukan untuk memenuhi hal tersebut. Selain bertujuan untuk mendapatkan hasil produksi sampingan, penanaman tanaman di pinggir lahan dapat berfungsi sebagai sumber makanan bagi imago baik parasitoid maupun predator dan tempat berlindung berlindung sementara (Pujiastuti et al. 2015).

Menurut Wahyuni et al.(2013), tumbuhan berbunga yang dijadikan tanaman refugia diharapkan dapat menjadi tempat perlindungan serta sebagai penyedia pakan bagi predator dari hama tanaman padi. Makanan yang didapatkan predator dari tumbuhan berbunga adalah madu dan nektar dari bunga serta serangga hama yang bersembunyi pada tumbuhan tersebut. Menurut Norris (2005) dalam Wahyuni et. al (2013), selain dapat memperoleh madu dan nektar dari tumbuhan berbunga yang didatanginya, predator juga dapat menemukan mangsa yang bersembunyi di tumbuhan berbunga tersebut. Sehingga predator dapat dengan mudah memangsa mangsanya.

Keberagaman fauna karena adanya tanaman berbunga (refugia) akan menyebabkan terbentuknya ekosistem yang lebih stabil, yang pada gilirannya akan menjaga terjadinya keseimbangan komponen ekosistem. Kehadiran tumbuhan berbunga dengan demikian sangat penting untuk melestarikan populasi musuh alami di suatu ekosistem seperti agroekosistem (Kurniawati dan Edhi 2015).

Menurut Altieri & Nichols (2004) dalam Kurniawati &Edhi (2015), manipulasi habitat dapat dilakukan denganmenanam tumbuhan berbunga (insectary plant) yangberfungsi sebagai sumber pakan, inang/mangsa alternatif, dan refugia bagi musuh alami. Tumbuhan atau gulma berbunga yang berperan penting dalamkonservasi musuh alami ini umumnya berasal darifamili Umbelliferae, Leguminosae, dan Compositae.

Dengan kata lain manfaat dari menanam tanaman refugia di area pertanaman pokok, antara lain:

– Mikrohabitat yang diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam usaha konservasi musuh alami.

– Sumber nektar  atau pakan bagi musuh alami sebelum adanya populasi hama di pertanaman.

– Terciptanya agroekosistem yang seimbang, dimana jumlah hama yang ada dapat ditekan oleh keberadaan musuh alaminya, sehingga tidak menimbulkan kerugian secara ekonomi (di bawah ambang batas ekonomi).

Hal yang Harus Diperhatikan

Mengingat peran dari serangga musuh alami yang mengguntungkan untuk membantu pengendalian hama dan penyakit ini, maka perlu ada usaha konservasi musuh alami dengan menanam tanaman refugia bersamaan atau mendahului tanaman utama. Menurut Purwantiningsih et al. (2012) sebaiknya tanaman refugia ditanam sebelum tanaman utama agar dapat dimanfaatkan sebagai tempat berlindung dan berkembang biak bagi musuh alami dan serangga pollinator yang berperan dalam polinasi yaitu perantara penyerbukan tanaman.

Refugia cocok ditanam di pematang sawah. Diusahakan agar penanaman refugia sejajar dengan sinar matahari sehingga tidak menutupi atau mengganggu penyerapan sinar matahari bagi tanaman utama. Selain itu pengolahan lahan dan pemupukan yang tepat sangat dianjurkan agar tanaman refugia tumbuh sesuai yang diharapkan.

Penerapan Tanaman Refugia

Berdasarkan penelitian Pujiastuti et al. (2015), penggunaan tanaman refugia berupa tanaman kacang panjang dan jagung pada plot tanaman padi pasang surut menunjukkan kelimpahan jumlah serangga herbivora yang di dapat pada subplot dengan tanaman refugia lebih rendah dibandingkan dengan tanaman padi yang tanpa refugia, baik pada vase vegetatif dan generatif.

Menurut Wahyuni et. al(2013), tumbuhan berbunga yang secara alami berada pada pertanaman padi lahan konvensional di Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, yaitu Alternanthera philoxeroides, Alternanthera sessilis, Eclipta prostrate (orang aring).

Sedangkan tumbuhan berbunga Ruellia malacosperma, Cosmos caudatus(kenikir), Wedelia trilobata, Impatiens balsamina(pacar air), Euphorbia milii dan Arachis hypogaea(kacang tanah), merupakan tumbuhan berbunga yang ditanam oleh petani di pertanaman padi organik.

Tumbuhan berbunga yang paling beragam didatangi predator pada fase vegetatif di lahan organik yaitu Alteranthera sessilis. Serangga predator yang mendatangi tumbuhan berbunga ini berasal dari famili Pentatomidae, Gryllidae, Oxyopidae dan Formicidae.SedangkanAlternanthera philoxeroides pada fase vegetatif memiliki tingkat keragaman predator tertinggi di lahan konvensional. Predator yang mendatangi tumbuhan ini yaitu berasal dari famili Coccinelidae, Dolichopodidae, Reduviidae dan Oxyopidae.

Jumlah hama di lahan padi konvensional lebih tinggi dibandingkan jumlah predator di lahan tersebut. Sedangkan jumlah hama di lahan organik lebih rendah dari predatornya. Tingginya jumlah predator pada lahan organik ini dikarenakan lahan organik memiliki keragaman tumbuhan berbunga yang lebih tinggi dibandingkan keragaman tumbuhan berbunga lahan konvensional. Predator mendatangi tumbuhan berbunga untuk berlindung maupun mendapatkan makanan (Wahyuni et. al 2013).

Sejauh ini penelitian–penelitian yang telah dilakukan hanya menitikberatkan kepada kelimpahan artrophoda musuh alami di pertanaman refugia di lahan, tetapi belum memperhatikan dampaknya terhadap musuh alami seperti predator. Oleh karena itu perlu dilakukan pengembangan penelitian tentang pengaruh pemanfaatan tanaman pinggir atau refugia terhadap musuh alami seperti predator dan parasitoid.

Keberagaman fauna karena adanya tanaman berbunga akan menyebabkan terbentuknya ekosistem yang lebih stabil, yang pada gilirannya akan menjaga terjadinya keseimbangan komponen ekosistem. Kehadiran tumbuhan berbunga dengan demikian sangat penting untuk melestarikan populasi musuh alami di suatu ekosistem seperti agroekosistem. (MC/berbagai sumber)