HKTI Dukung Kementan Tindak Importir Bawang Merah Palsu

oleh
Sekjen HKTI Bambang Budi Waluyo

HKTI.ONLINE – Sekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Mayjen (Purn) Bambang  Budi Waluyo mendukung sikap tegas Kementerian Pertanian yang mem-blacklist  lima perusahaan importir bawang bombai mini. Mereka juga akan melaporkan kasus ini ke Mabes Polri.

Pasalnya, ulah importir nakal itu sangat merugikan petani. Bagaimana tidak? Selain produksi dalam negeri sudah surplus, dan sudah ekspor, impor ilegal, sangat merugikan petani.  Sejak 2016, Kementan juga  tidak lagi mengeluarkan rekomendasi impor produk hortikultura bawang merah.

“Kalau mau impor, tentunya impor yang berkualitas, jangan seperti bawang bombai (mini) yang serupa bawang merah. Sekali lagi kalau impor, imporlah yang  tidak merugikan petani Indonesia dan kita benar-benar membutuhkan. Jangan seperti sekarang, sudah surplus malah impor,” ujar Bambang ditemui di JCC, Senin (25/6).

Dia menyebutkan, dengan adanya impor ilegal, akan membuat harga produk pertanian jatuh. “Kalau saat panen, biasanya harga jadi turun. Itu salah satu masalah yang dihadapi petani,” jelas Bambang.

Menurut Bambang, petani kalau ada impor pasti merasakan itu. Misal, bawang merah. “Tapi, kalau bawang putih, kita memang masih kurang. HKTI visi misinya sebagai jembatan petani. Supaya sejahtera dan kaya,” tegas Bambang.

Dengan adanya bawang merah ‘palsu’ tersebut, maka secara tak langsung bisa merugikan petani bawang merah. Padahal, kata Bambang, semestinya impor tersebut tidak membuat petani menderita.

“HKTI ini sih intinya kalau impor adalah bagaimana supaya tidak merugikan petani. Itu saja. Kalau memang Indonesia masih membutuhkan impor bawang ya yang pertama jangan merugikan petani,” imbuh Bambang.

Adapun bawang merah ‘palsu’ tersebut merupakan bawang bombai mini yang diimpor ke Indonesia. Sesuai Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) 105/2017, impor bawang bombai berukuran diameter kurang dari 5 sentimeter atau bawang bombai mini telah ditutup karena morfologis bentuknya menyerupai bawang merah lokal. Hal itu berpotensi dapat mengelabui konsumen dan merugikan petani lokal.

“Begitu masuk pasar, bawang bombai mini ini dijual sebagai bawang merah dengan harga jauh lebih murah. Akibatnya harga bawang merah lokal anjlok drastis,” ujar Mentan Amran Sulaiman, Jumat (22/6/18).

Terkait hal tersebut, Amran mengatakan ada lima importir bawang bombai yang akan dikenakan sanksi blacklist karena diduga memasukkan bawang bombai yang tidak sesuai ketentuan. Kelima importir itu antara lain PT TAU, PT SMA, PT KAS, PT FMP dan PT JS. Menurut Amran, setidaknya ada total 10 importir yang melanggar ketentuan tersebut dan sedang diperiksa pihak berwajib. (MC)