Asia Hadapi Tantangan Berat untuk Mampu Memberi Makan Penduduknya

oleh
Panitia Asian Agriculture and Food Forum 2018

HKTI.ONLINE — Ketahanan dan keamanan pangan merupakan isu penting di dunia sejalan dengan pesatnya pertumbuhan populasi global. Ketahanan dan kemanan pangan merupakan faktor kunci bagi banyak aktivitas ekonomi di dunia. Perbaikan teknologi dan inovasi pada bidang pertanian tentu akan menciptakan peluang dan peningkatan produktivitas pertanian menuju kedaulatan pangan dan keamanan negara.

Menurut Ketua Umun Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, sehebat apapun persenjataan sebuah negara, keamanannya akan terancam bila sektor pangannya rapuh. Oleh karena itu sektor pertanian harus mendapat perhatian serius agar segera dibenahi. “Ketahanan dan kedaulatan pangan bisa jadi ancaman serius bila petani dan pertanian tidak dibenahi,” ujarnya.

Ada empat komponen utama ketahanan pangan, yaitu ketersediaan pangan, akses pangan, pemanfaatan pangan, dan stabilitas pangan. Ketersediaan pangan adalah kemampuan memiliki sejumlah pangan yang cukup untuk kebutuhan dasar. Akses pangan adalah kemampuan memiliki sumber daya, secara ekonomi maupun fisik, untuk mendapatkan bahan pangan bernutrisi.

Sementara pemanfaatan pangan adalah kemampuan dalam memanfaatkan bahan pangan dengan benar dan tepat secara proporsional. Komponen keempat, yaitu kestabilan dari ketiga komponen tersebut dalam kurun waktu yang panjang.

Bila komponen tersebut tak terpenuhi maka bisa menimbulkan bencana kelaparan. Hasil studi Perserikatan Bangsa Bangsa menyebutkan bahwa krisis pangan yang telah dialami oleh 583 juta orang di sejumlah negara di Asia-Pasifik tahun 2008 lalu nampaknya sekarang mulai terjadi lagi.

Kini kelaparan mengancam lebih dari 850 juta populasi dunia. Jumlah itu kemungkinan akan meningkat lagi secara drastis pada masa mendatang akibat dari adanya kemiskinan, konflik yang terus terjadi di beberapa kawasan, perubahan cuaca dan iklim, menyempitnya lahan pertanian, program pertanian yang tidak produktif, dan tentu saja meningkatnya populasi global.

Pertambahan penduduk dunia berlangsung sangat tinggi dan cepat. Laporan yang disusun oleh Departemen Populasi Divis Urusan Sosial dan Ekonomi PBB pada Juni 2017, memperkirakan bahwa populasi dunia saat ini mencapai hampir 7,6 miliar dan akan meningkat menjadi 8,6 miliar pada 2030, lalu menjadi 9,8 miliar pada tahun 2050 dan 11,2 miliar pada 2100.

PBB memperkirakan bahwa mulai sekarang hingga 2050, setengah pertumbuhan populasi dunia akan terkonsentrasi di sembilan negara, yakni India, Nigeria, Kongo, Pakistan, Ethiopia, Tanzania, Amerika Serikat, Uganda, dan Indonesia.

Asia merupakan benua dengan tingkat populasi penduduk terbesar yakni hampir 4,5 miliar orang. Sementara Asia Tenggara berpenduduk sekitar 650 juta, dengan sekitar 260 juta di antaranya merupakan penduduk Indonesia.

Asia sendiri sebagai produsen sekaligus konsumen terbesar komoditas pangan di dunia, kini tengah menghadapi tantangan besar untuk memberi makan bagi jumlah penduduknya yang sangat besar. Pertambahan penduduk yang sangat cepat, produktivitas panen yang stagnan, kelangkaan air dan polusi, perubahan iklim, dan tekanan lainnya membuat semakin sulit untuk menjaga keamanan pangan di kawasan itu.

Khusus untuk Indonesia, pada perayaan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-100 tahun pada 2045, penduduk Indonesia diprediksi akan mencapai angka 330 juta. Artinya, kebutuhan pangan dibutuhkan terus menerus naik kira-kira 3% per tahun.

Potensi terbesar dari produk pertanian Indonesia adalah padi. Di mana padi merupakan produk utama dalam mempercepat pertumbuhan perekonomian nasional.

Pada tahun 2005 kebutuhan beras setara 52,8 juta ton gabah kering giling (GKG). Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, kebutuhan beras sampai pada 2025 diprediksikan masih akan terus meningkat mencapai 65,9 juta ton GKG.

Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, maka untuk dapat memberikan jaminan pangan kepada pertambahan penduduk tersebut, diperlukan jaminan ketersediaan pangan yang memadai. Oleh karena itu segala daya dan upaya dilakukan oleh pemerintah untuk menciptakan ketahanan pangan, baik melalui program swasembada atau bahkan mengimpor, demi menjaga adanya stabilitas ekonomi dan politik nasional.

Kementerian Pertanian RI telah menetapkan target untuk mencapai swasembada pangan nasional pada 2018 guna memenuhi kebutuhan pangan nasional. Kemudian bercita-cita dapat menjadi pemasok bahan pangan utama di dunia pada 2045 mendatang.

Target itu dapat terwujud dengan mempertimbangkan besarnya sumberdaya yang ada termasuk besarnya keanekaragaman hayati dan ekosistem pertanian, luasnya potensi lahan subur untuk pertanian, melimpahnya tenaga kerja, tersedianya inovasi dan teknologi, dan besarnya potensi pasar dalam negeri dan internasional.

FAO mengapresiasi atas capaian pembangunan pertanian pemerintah RI dan menilai Indonesia memiliki peluang untuk mengekspor produk pertaniannya dengan adanya kenaikan produksi. Namun menurut FAO, untuk memasarkan produk pertanian ke luar negeri, produk itu sendiri harus berdaya saing, efisien, dan spesifik, dan organik.

FAO berharap agar Indonesia dapat menjadi promotor sistem pertanian Low external input sustainable agriculture (Leisa) dan organik. Leisa merupakan sistem pertanian berkelanjutan dengan input luar yang rendah dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal dengan efisien.

Program pemerintah itu tentu tidak sepenuhnya dapat berjalan dengan mulus dan masih harus menghadapi beberapa kendala yang bersifat klasik. Misalnya masih terjadi ketimpangan pusat produksi pertanian sangat besar. Hampir 40% dari luas persawahan yang ada sebesar 8,1 juta hektare terkonsentrasi di Pulau Jawa. Padahal luas Jawa hanya 7% dari luas daratan Indonesia sebesar 181 juta hektare.

Ironisnya lagi 60% penduduk Indonesia yang berjumlah 265 juta jiwa bermukim di pulau Jawa. Akibatnya, lahan sawah di pulau Jawa setiap tahun semakin menyusut dan hilang sekitar 100 ribu hektare, karena beralihnya fungsi persawahan untuk pemukiman atau industri.

Kondisi tersebut mengakibatkan upaya untuk mewujudkan swasembada dan ketahanan pangan nasional menjadi semakin sulit diwujudkan. Mengatasi kendala tersebut, perlu dikembangkan program ekstensifikasi lahan pertanian, terutama di luar Jawa.

Kendala lain adalah kerusakan lahan akibat eksploitasi penggunaan pupuk kimia dan pestisida, serta sedikitnya pamanfaatan teknologi dan inovasi pertanian. Selain itu  faktor cuaca dan iklim yang tak menentu juga kerap menjadi kendala. Namun persoalan terbesar dari masalah pertanian di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, adalah benjangkitnya hama dan penyakit tanaman serta gagal panen, yang dapat mencakup sekitar seperempat dari hasil panen saat ini.

Langkah Strategis HKTI

Insan HKTI diskusikan dengan serius ASAFF 2018

Untuk mengatasi semua kendala tersebut tentu saja pemerintah tidak dapat melakukannya sendiri namun butuh bantuan berupa partisipasi aktif semua elemen dalam masyarakat. Dalam hal ini Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) secara sadar dan terencana telah melaksanakan dukungan pada hal tersebut. HKTI sebagai bagian dari elemen bangsa yang bergerak dalam bidang pertanian juga selalu mengusung ambisi besar mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia.

Dalam mendukung program ketahanan dan kedaulatan pangan nasional HKTI telah melakukan beberapa langkah strategis. Pertama, menyelaraskan budaya dan teknologi yang tidak sinkron selama ini. Dengan teknologi dan kultur bertani yang berkembang, mestinya petani akan maju dan sejahtera. Oleh karena itu teknologi harus bisa dihubungkan dengan kultur masyarakat, agar pertanian kita tidak stagnan atau mati.

Maka HKTI pun langsung melakukan sejumlah pengembangan teknologi seperti menciptakan kemandirian dengan melakukan pem­bibitan atau benih padi varietas unggul M400 dan M70D. Kedua varieatas benih itu juga tahan terhadap hama dan penyakit. Dari sisi kultur yang dilakukan adalah memberikan pelatihan dan pemahanan cara tanam dan pendampingan secara reguler oleh para ahli terhadap petani.

HKTI juga telah memproduksi pupuk organik berkualitas baik. Beberapa petani yang menggunakan kedua benih padi varietas unggul dan pupuk organik tersebut, di berbagai daerah menunjukkan hasil positif, yaitu dari satu hektar menghasilkan padi 9-10 ton. Padahal sebelumnya petani hanya bisa panen 5-7 ton saja per hektarnya.

Teknologi lain yang sedang dalam proses pengembangan HKTI adalah drone pertanian. Drone yang nanti akan diperkenalkan kepada khalayak itu dapat digunakan multi fungsi yaitu untuk pemupukan, penyemprotn pestisida, pemotretan, dan lain-lain.

Kedua, HKTI sangat prihatin atas kondisi lahan pertanian saat ini yang rusak dan tidak lagi subur akibat ekpolitasi berlebihan pemanfaatan pupuk kimia dan pestisida. Selain merusak tanah, penggunaan zat kimia secara tak terkendali tersebut menurunkan daya tahan tanaman terhadap hama dan produktivitas lahan.

Hal tersebut mendorong HKTI untuk mengingatkan dan mengedukasi petani agar meninggalkan cara bertani tradisional dan beralih kepada sistem pertanian modern berbasis teknologi dan organik. Beberapa daerah yang tanahnya rusak diperbaiki agar lebih produktif lagi. Upaya mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang dirancang HKTI sendiri sudah berjalan dalam program terpadu sejak lebih dari setahun ini.

Ketiga, HKTI juga memiliki pasukan anti hama untuk membasmi 21 jenis hama sebagai musuh utama pertanian. “Ini harus disikapi betul-betul, karena jika tidak petani yang sudah menanam selama tiga bulan akan rusak oleh hama,” Moeldoko.

Hama merupakan teror yang meruntuhkan sektor pertanian. Hama yang sulit diatasi ini membuat para petani menderita sehingga menjadi salah satu penyebab berkurangnya animo masyarakat menggeluti bidang pertanian. Akibatnya, jumlah petani Indonesia secara perlahan-lahan semakin mengecil karena tidak ada lagi generasi muda yang mau jadi petani. Ini harus mendapat perhatian serius.

Hal inilah yang mendorong HKTI akhirnya membentuk tim khusus untuk mengatasi hama pertanian. Tim ini akan siap selalu membantu para petani yang lahannya diserang hama. Tim yang dinamakan Brigade Anti Hama itu berisi orang-orang yang memiliki kompetensi tentang tumbuh dan mutasinya beragam hama yang saat ini meresahkan petani. Teknologinya juga akan terus dikembangkan.

Keempat, HKTI telah pula membangun informasi dan teknologi (IT). Bagi HKTI, petani juga harus memahami dan memiliki IT yang bagus sehingga produk-produk pertanian bisa dimonitor setiap harinya. HKTI memiliki anggota 60 juta petani. Kalau ini dimobilisasi maka kita akan bisa menanam padi, sayuran, jagung, buah-buahan, dan lain-lain. Kalau ini bergerak semua, pasti kita akan makmur.

Kelima, HKTI juga telah mengonversi tanah-tanah bekas tambang galian menjadi lahan produktif. Di samping itu terus mendorong pemerintaah agar memanfaatkan potensi ketersediaan lahan yang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara optimal seperti potensi 20 juta hektar lahan rawa di mana 10 juta hektarnya bisa dikembangkan untuk lahan pertanian maupun perkebunan. Kemudian, ada  juga dua jutaan hektar lahan tadah hujan yang bisa di manfaatkan dengan sangat baik.

Keenam, HKTI melihat bahwa permasalahan petani di Indonesia saat ini adalah keterbatasan pengetahuan pemasaran dan kelemahan penanganan pasca panen, sehingga tidak dapat menghasilkan kualitas produk yang baik. Oleh karena itu, HKTI yang memiliki visi organisasi sebagai ‘bridging institution’ telah memainkan perannya untuk mempertemukan petani dengan perusahaan (pasar) dan membuka akses permodalan seperti perbankan dengan petani.

Ketujuh, seluruh insan HKTI diharapkan mau terjun langsung ke lapangan dan berbuat sesuatu secara nyata. Hal ini selain untuk merasakan langsung realitas dunia pertanian di lapangan juga sebagai upaya memahami kekayaan kearifan lokal masyarakat kita.

Insan HKTI perlu menggali kembali kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber pangan yang telah dikonsumsi turun-temurun, seperti sagu dan umbi-umbian di Papua dan wilayah timur lainnya. Dulu mereka mengonsumsi sagu dan umbi-umbian, lalu diubah dengan memakan beras. Hal ini tidak sesuai dan malah menyusahkan karena beras harus didatangkan dari tempat jauh seperti Pulau Jawa sehingga harganya menjadi sangat mahal.

Oleh karena itu kearifan lokal setiap daerah perlu dieksplorasi lagi guna membantu ketahanan dan kedaulatan pangan. Pada tahap kedaulatan pangan, berarti negara sanggup memberikan pangan yang cukup dan baik kepada setiap warga negara.

Selain sebagai penyedia pangan, pertanian juga merupakan roda penggerak ekonomi nasional. Posisi sektor pertanian berada di peringkat kedua yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, setelah industri pengolahan. Hal ini membuktikan bahwa sektor pertanian bisa membuat ekonomi Indonesia kian bersaing di dunia internasional.

Salah satu turunan penting dari sektor pertanian adalah tumbuhnya industri makanan dan minuman, termasuk kuliner Nusantara. Industri ini diproyeksikan masih menjadi salah satu sektor andalan penopang pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional pada tahun depan.

Kementerian Perindustrian mencatat sumbangan industri makanan dan minuman terhadap PDB industri nonmigas mencapai 34,95 persen pada triwulan ketiga 2017. Hasil itu menjadikan sektor makanan dan minuman menjadi kontributor PDB industri terbesar dibanding subsektor lain.

Dilihat dari perkembangan realisasi investasi, sektor industri makanan dan minuman untuk penanaman modal dalam negeri pada triwulan ketiga 2017 mencapai Rp 27,92 triliun atau meningkat 16,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sedangkan penanaman modal asing 1,46 miliar dolar AS.

Untuk menjaga pertumbuhan sektor itu tetap tinggi pemerintah terus mendorong pelaku industri makanan dan minuman nasional agar memanfaatkan potensi pasar dalam negeri. Indonesia, dengan memiliki jumlah penduduk sebanyak 260-an juta orang, menjadi pangsa pasar yang sangat menjanjikan.

Di samping itu, industri makanan dan minuman nasional semakin kompetitif karena jumlahnya cukup banyak. Tidak hanya meliputi perusahaan skala besar, tapi juga telah menjangkau di tingkat kabupaten untuk kelas industri kecil dan menengah. Bahkan sebagian besar dari mereka sudah ada yang go international.

Bersamaan dengan itu, dunia kuliner Indonesia juga sangat maju dan sudah semakin dikenal secara internasional. Bahkan dalam beberapa polling lembaga-lembaga survei kuliner internasional mendudukan rendang padang sebagai makanan terlezat di dunia. Nasi goreng dan sate juga masuk peringat atas. Kopi Nusantara juga menjadi favorit nomor satu para penggemar kopi di dunia.

Presiden Joko Widodo pernah mengatakan bahwa Indonesia memiliki 1.317 etnis dan etnis-etnis tersebut memiliki seni dapur masing-masing. Jadi bisa dibayangkan betapa beragamnya lelayaan kuliner kita. Dan satu hal yang menjadi ciri khas kuliner Indonesia adalah sangat kaya dengan cita rasa dan aroma rempah yang tak banyak bisa dijumpai di belahan dunia lain.

Berdasarkan sejumlah fakta di atas, maka dalam rangka peringatan ulang tahun HKTI ke 45 yang jatuh pada 27 April 2018, HKTI menyelenggarakan eksibisi dan pameran internasional dengan mengusung tema pokok soal Keamanan Pangan dan Inovasi Teknologi Pertanian.

Mengingat pada tahun yang sama Indonesia juga menjadi tuan rumah gelaran pesta olah raga terbesar se-Asia yakni Asian Games XVIII di Jakarta dan Palembang, maka eksibisi tersebut kami selaraskan dengan nama ASIAN AGRICULTURE and FOOD FORUM 2018 (Transforming Challenge into Opportunity: Food Security and Agriculture Innovation).

ASIAN AGRICULTURE and FOOD FORUM (ASAFF) 2018 berlangsung di Jakarta Convention Center, 27 Juni – 1 Juli 2018. Dalam cara ini selain pameran, juga diadakan konferensi dan bisnis forum yang akan mendiskusikan masalah-masalah pertanian dan produk pertanian khususnya yang berkaitan dengan masalah Asian Food Security (Keamanan Pangan Asia). (Media Center)

 

Sekjen HKTI Mayjen (Purn) Bambang Budi Waluyo memberikan arahan kepada panitia ASAFF 2018