Rotan Alternatif Komoditas yang Masih bisa Diterima Negara Maju

oleh -682 views

Oleh Hendra Nazif *)

HKTI.ONLINE – Sejak dua dekade yang lalu, ada semacam peningkatan pengakuan terhadap nilai-nilai produk yang dihasilkan dari hutan (Hasil Hutan Non Kayu atau HHNK). Setelah produk kayu hutan banyak ditolak negara-negara maju, maka rotan merupakan alternatif komoditas hasil hutan yang masih bisa diterima oleh negara maju. Pemanfaatan HHNK diharapkan mampu berkontribusi dalam mengatasi persoalan yang timbul dari pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat dan isu konservasi. Menurut Belcher (2002), dalam kaitannya dengan hal di atas, ada tiga hal sentral yang menjadi alasan.

Pertama, bila dibandingkan dengan kayu, HHNK lebih berkontribusi terhadap mata pencaharian dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.

Kedua, secara ekologi, pemanenan HHNK lebih ramah bila dibandingkan dengan pemanenan kayu dan oleh karenanya memenuhi basis pengelolaan hutan lestari. Ketiga, pemanfaatan HHNK secara komersial mampu meningkatkan nilai hutan baik di level lokal maupun nasional. Salah satu hasil hutan non kayu yang bernilai cukup tinggi adalah rotan.
Saat ini ketersediaan rotan sangat banyak di hutan Indonesia terutama di wilayah Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Indonesia merupakan penghasil 85% rotan mentah dunia yaitu dengan nilai sekitar 699.000 ton/tahun. Akan tetapi sayangnya kondisi ini tidak serta merta menempatkan Indonesia sebagai leading country dalam perdagangan rotan internasional.

Saat ini Indonesia menempati posisi ketiga (7,68%) dalam perdagangan rotan di pasar global setelah China (20,72%) dan Italia (17,71%) (Lumbantoruan,2013). Kondisi ini tentunya menjadi sebuah persoalan yang memerlukan pemecahan secara holistik serta kajian yang mendalam dengan melihat faktor-faktor penghambatnya guna menghantarkan Indonesia sebagai leading country dalam perdagangan rotan dunia.
Rotan adalah sekelompok palma dari puak (tribus) Calameae yang memiliki habitus memanjat, terutama Calamus, Daemonorops, dan Oncocalamus. Puak Calameae sendiri terdiri dari sekitar enam ratus anggota, dengan daerah persebaran di bagian tropis Afrika, Asia dan Australasia. Ke dalam puak ini termasuk pula marga Salacca ( misalnya salak), Metroxylon (misalnya rumbia/sagu), serta Pigafetta yang tidak memanjat, dan secara tradisional tidak digolongkan sebagai tumbuhan rotan.Batang rotan biasanya langsing dengan diameter 2–5 cm, beruas-ruas panjang, tidak berongga, dan banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang, keras, dan tajam. Duri ini berfungsi sebagai alat pertahanan diri dari herbivora, sekaligus membantu pemanjatan, karena rotan tidak dilengkapi dengan sulur. Suatu batang rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang rotan mengeluarkan air jika ditebas dan dapat digunakan sebagai cara bertahan hidup di alam bebas. Badak jawa diketahui juga menjadikan rotan sebagai salah satu menunya.
Rotan dikenal sebagai jenis tumbuhan tropis yang diperdagangkan untuk keperluan rumah tangga seperti furniture, lampit, keranjang dan lain-lain. Permintaan bahan baku rotan terus meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk dan kualitas hidup suatu bangsa. Permintaan bahan baku rotan yang terus meningkat ini terdorong oleh pengaruh kemajuan teknologi pemrosesan dan desain produk rotan yang terus berkembang serta kemampuan pemasaran. Namun hanya dengan mengandalkan pengambilan dari dalam hutan, suatu ketika nasib komoditas ini juga akan habis seperti halnya kayu. Padahal negara-negara sub tropis, terutama MEE, AS, dan Jepang, sangat menyukai produk rotan, terutama meubelnya. Sebab dibanding dengan bambu, rotan punya banyak kelebihan. Misalnya, panjang rotan bisa mencapai lebih dari 100 m. Elastisitas rotan juga lebih tinggi dibanding dengan bambu.

Kelemahan utama rotan adalah, belum populer dibudidayakan.
Sampai saat ini kebutuhan bahan baku rotan sebagian besar masih diperoleh dari hutan alam terutama jenis-jenis rotan besar dan sedikit dari budidaya rotan masyarakat. Sementara untuk memenuhi kebutuhan rotan dimasa akan datang yang terus meningkat diperkirakan dua sumber rotan tersebut tidak mampu menyediakan dalam jumlah cukup dan lestari. Beberapa tantangan dalam pengembangan industri rotan dalam negeri, antara lain habitat rotan mulai tergantikan dengan perkebunan dan pertanian. Selain itu, masih ada upaya untuk melakukan penyelundupan bahan baku rotan pasca pelarangan ekspor bahan baku rotan. Tantangan lainnya adalah belum berkembangnya industri pendukung dan Sumber Daya Manusia (SDM) bidang desain.
Dapat disimpulkan bahwa industri pengolahan rotan nasional mengalami permasalahan bahan baku dan pemasaran, yaitu sulitnya mendapatkan bahan baku yang disebabkan antara lain masih maraknya penyelundupan rotan ke luar negeri, selain itu juga dikarenakan produksi penguasaan teknologi finishing masih ketinggalan, serta desain produk-produk rotan olahan masih ditentukan oleh pembeli dari luar negeri (job order).
Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh industri pengolahan rotan dan untuk membangkitkan kembali industri pengolahan rotan nasional diperlukan dukungan dari semua pihak (pemangku kepentingan) untuk saling bekerjasama secara sinergis dengan mengutamakan kepentingan nasional diatas kepentingan pribadi, kelompok maupun sektoral. Strategi pemerintah dalam mengatasi permasalahan ini dari segi bahan baku adalah meninjauan kembali kebijakan Ketentuan Ekspor Rotan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 12/M-DAG/PER/6/2005 serta peningkatan pemberantasan penyelundupan rotan ke luar negeri, dalam rangka menjamin kontinuitas pasokan bahan baku rotan di dalam negeri, serta peningkatan daya saing produk barang jadi rotan di luar negeri.
Selain itu, Permenperin No. 90/M-IND/-PER/11/2011 tentang Peta Panduan Pengembangan Klaster Industri Furnitur Tahun 2012-2016. Program pengembangan industri furniture rotan di Kemenperin mencakup penyelamatan dan pemulihan (rescue and recovery) industri pengolahan rotan untuk industri rotan yang sudah ada, pengembangan industri pengolahan rotan di daerah sumber bahan baku, dan juga perluasan pasar. Namun jarak ternyata menjadi kendala, sehingga dicoba mengembangkan industri pengolahan rotan di daerah yang menjadi sumber bahan baku rotan.

Dalam rangka menjaga ketersediaan bahan baku rotan bagi industri di dalam negeri dan pemanfaatan rotan secara berkesinambungan, kata dia, pemerintah telah menetapkan kebijakan larangan ekspor bahan baku rotan yang mulai berlaku pada tahun 2012 yaitu dengan dikeluarkannya Permen Perdagangan RI Nomor 35 Tahun 2011 tentang Ketentuan Ekspor Rotan dan Produk Rotan.
Oleh karena itu, masih diperlukan pengembangan rotan terutama dilahan milik masyarakat. Selain itu, tanaman rotan tradisional yang sudah ada perlu diremajakan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas barang yang dihasilkan.Budidaya rotan relatif cukup menguntungkan, sebab sekali tanam, tumbuhan ini hampir tidak memerlukan perawatan sama sekali.
Pengembangan dan peremajaan rotan terutama jenis rotan tunggal untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat membutuhkan bibit dalam jumlah banyak. Sedangkan pembuatan bibit dibutuhkan teknologi yang dapat menekat biaya produksi. Dengan pertimbangan tersebut maka diperlukan petunjuk teknis pembibitan rotan.
Berangkat dari sana, pendirian Rumah Rotan Indonesia diharapkan dapat memberikan solusi dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh industri pengolahan rotan dan untuk membangkitkan kembali industri pengolahan rotan nasional. Permalahan diantaranya bahan baku rotan yang berkesinambungan , bahan baku yang berkualitas dengan memanfaatkan penggunaaan teknologi tinggi, desain rotan yang bernilai seni dan promosi serta pemasaran produk rotan.(mc)

*)Badan Litbang DPN HKTI