Moeldoko: HKTI Harus Menjadi Solusi Bagi Petani

oleh -1.956 views

HKTI.ONLINE – Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Jenderal TNI Purn Dr Moeldoko menegaskan HKTI harus menjadi solusi bagi petani.

Saat bersilaturahmi dengan Pemimpin Redaksi dan jajaran redaksi Harian Kompas, Selasa (14/11/2017), mantan Panglima TNI tersebut mengungkapkan ada 5 hal permasalahan petani yang menjadi tantangan bagi HKTI mengatasinya.

Ketum HKTI Jenderal TNI Purn Dr Moeldoko bersama Pemimpin Redaksi Kompas Budiman Tanuredjo.

Pertama adalah persoalan tanah. Petani Indonesia ini hanya memiliki lahan rata-rata 0,2 hektar. Sehingga pengelolaan lahan seluas itu kurang memiliki nilai ekonomis. Yang dilakukan HKTI adalah mengembangkan kelompok petani sehingga pengelolaan lahan menjadi lebih produktif, efektif, dan efisien dengan hasil produksi yang menguntungkan.

Kedua, persoalan pupuk. Dengan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan, kondisi tanah menjadi keras dan rusak. Tugas HKTI yang bermitra dengan MTani mengembalikan unsur hara tanah sehingga menjadi subur kembali.

 

Ketiga, mengenai teknologi. Denga perkembangan teknologi pertanian, HKTI mengajak petani melakukan transpormasi dari pola pertanian tradisional ke pertanian modern dengan memanfaatkan teknologi. Mulai dari penggunaan bibit unggul, pupuk organik, hingga pemanfaatan alat-alat mesin pertanian sehingga hasil produksi menjadi lebih optimal.

Keempat terkait manajemen. Saat ini para petani tidak pernah tahu nerapa harga pokok produksi (HPP) mereka. Ongkos produksi, ongkos kerja, dan biaya-biaya lain tidak dihitung dengan baik sehingga ketika menetapkan harga jual mereka tidak mempertimbangkan biaya-biaya tersebut. Dengan peningkatan kemampuan manajemen, petani akan mampu memiliki daya tawar dengan pembeli gabahnya.

Kelima adalah pasca panen. Dengan pengelolaan pasca panen diharapkan pendapatan petani meningkat dan harga jual menjadi lebih baik. HKTI dan MTani sudah mulai membeli produk beras petani dan dikemas serta dibranding dengan merek “Un-Glu” dan “Mountain Rice”.

Di luar itu HKTI bersama MTani juga mengembangkan bibit unggul M400 dan M70D. Jenis bibit M400 adalah pada setiap batang padi menghasilkan 400 bulir padi sehingga produksi jauh lebih besar.

Sedangkan M70D adalah bibit unggul yang sudah bisa dipanen pada usia 70 hari. Sehingga dalam setahun bisa 4 kali panen.

Disamping itu, Ketua Umum HKTI juga menjelaskan bahwa petani saat ini butuh “preman” alias “endorser” yang menjadi penjaga mereka dan produk pertanian mereka. Baik itu dalam pengolahan dan penjualan maupun dalam pembiayaan dengan lembaga keuangan. “Saya menjadi premannyaa,” ungkap Moeldoko yang disambut gelak tawa redaksi Kompas dan pengurus HKTI yang hadir.

Satu hal yang cukup menarik juga adalah HKTI memberi dukungan pasukan anti yakni Brigade Anti Hama. Bekerjasama dengan Gerakan Petani Nusantara dan tim Institut Pertanian Bogor (IPB), HKTI membantu para petani mengatasi hama.

“Seperti di Indramayu sekitar 3.000 hektar lahan pertanian terkena hama, kami akan memberikan klinik pertanian dalam seminggu sampai dua minggu sehingga permasalahan gagal panen petani bisa teratasi dan diantisipasi,” paparnya.

HKTI juga akan melakukan “Syukur Panen” di Indramayu yang rencananya mengundang Presiden Joko Widodo.

Panglima TANI Jenderal Moeldoko diterima Pemimpin Redaksi Harian Kompas Budiman Taniredjo, Redaktur Pelaksana Kompas Muhammad Bakir, Wakil Redaktur Pelaksana Tri Agung Kristanto, dan jajaran Redaksi Kompas.

Ketum HKTI didampingi Sekjen HKTI Mayjen TNI Purn Bambang Budi Waluyo, MM, Ketua Umum Perempuan Tani HKTI Dian Novita, Ketua Umum Pemuda Tani HKTI Rina Saadah, ketua Media Center Guntur Subagja dan tim Media Center Yayat Supriyatna dan Pauline Dhini.*
(mc)