Yuk Bertani Organik, Peluang Pasar Ekspornya Sangat Besar

oleh

HKTI.ONLINE – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengajak petani dan pelaku usaha beralih memproduksi produk organik. Sebab, menurut Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Direktorat Jendral Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Marolop Nainggolan, peluang pasar produk organik Indonesia sangat besar.

Marolop menganjurkan kepada para pemangku kepentingan, baik petani dan pelaku usaha, untuk mempertimbangkan standar ekspor saat beralih ke organik. “Permintaan produk ini semakin meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat dunia terhadap isu kesehatan,” ujarnya dalam rilis yang diterima media beberapa waktu lalu.

Ajakan ini salah satunya disampaikan Marolop ke petani dan pelaku usaha di Kabupaten Karo, Sulawesi Utara pada Oktober lalu. Dalam forum itu, diadakan dialog cara membuka peluang dalam bisnis organik dan menunjukkan besarnya potensi pasar ekspor untuk produk organik.

Salah satu gagasan yang mengemuka adalah meningkatkan pemahaman dalam bertani secara organik sehingga produk pertanian memiliki nilai tambah yang menarik pasar produk organik.

Marolop mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti hasil forum melalui sinergi dan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah Daerah melalui Dinas Pertanian Kabupaten Karo akan menggelar forum khusus untuk membahas lebih lanjut upaya pembentukan kelompok tani. “Ini sebagai langkah awal pengembangan produk pertanian organik di Kabupaten Karo,” tuturnya.

Selanjutnya, pengembangan pemasaran dan promosi ekspor produk organik dilakukan melalui Dinas Perdagangan setempat. Opsi lain, pelaku usaha juga bisa memanfaatkan fasilitas Customer Service Center (CSC) Ditjen PEN Kemendag.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo Sarjana Purba menuturkan, Kabupaten Karo memiliki potensi pertanian yang besar. Sekitar 75 persen penduduk menggantungkan hidup dari bertani. Melihat potensi ini, Kabupaten Karo dapat dijadikan sentra pertanian organik di Sumatera Utara.

Sarjana mencatat, pertambahan luas lahan pertanian di Kabupaten Karo semakin meningkat tiap tahun. Sampai Desember 2017, sekitar 7.000 hektare lahan untuk pertanian.

“Sumber daya alam yang dimiliki juga tidak kalah hebat dan merupakan keunggulan komparatif yang dimiliki Kabupaten Karo. Di masa depan, kita bisa kembangkan pertanian organik di sini,” ucapnya.

Sarjana menjelaskan, pada dasarnya, pertanian organik telah diterapkan oleh beberapa petani di Kabupaten Karo tapi belum populer. Berbagai kendala dihadapi, termasuk masih terbatasnya akses informasi dan teknonogi bagi petani, akses pasar, ketiadaan HS Code untuk produk organik, pengenaan tarif yang menurunkan daya saing di pasar global, dan tingginya biaya sertifikasi.

Sementara itu, Direktur Sertifikasi PT BIOCert Indonesia, Hasudungan Sahat, mengatakan biaya sertifikasi memang tidak sedikit dan masih berat untuk petani. Namun, kelompok tani di masing-masing desa bisa menanggung biaya secara bersama-sama untuk mendapatkan sertifikat organik. “Cara ini bisa menjadi solusi menekan biaya,” katanya.

Produk Organik Potensial

Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) berkomitmen mendorong eskpor produk organik Indonesia di pasar internasional. Beberapa waktu, Kemendag menyelenggarakan seminar “Pemasaran Produk Organik Indonesia” di Jakarta.

“Indonesia memiliki potensi produk organik yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional. Potensi ini harus didukung dengan strategi pemasaran yang tepat. Melalui seminar pemasaran ini, diharapkan para pelaku usaha dapat menggenjot ekspor produk tersebut ke mancanegara,” ujar Marolop Nainggolan.

Menurut Marolop, produk organik Indonesia yang memiliki peluang besar untuk diekspor antara lain beras, kopi, madu, cokelat, mete, gula aren kelapa, minyak kelapa, udang, teh, dan vanila.

Besarnya potensi produk organik di Indonesia, antara lain ditandai dengan meningkatnya jumlah petani yang mengelola pertanian organik dari tahun ke tahun; bertambahnya toko produk organik di supermarket dan rumah makan; meningkatnya organisasi pecinta organik; serta berdirinya berbagai Lembaga Sertifikasi Organik (LSO).

Tumbuh Pesat

Marolop menyampaikan, pasar produk organik dunia tumbuh pesat dalam 10 tahun terakhir. Pada tahun 2018 pasarnya diperkirakan mencapai 161,5 miliar dolar AS dengan laju pertumbuhan sebesar 15% per tahun. Sedangkan pada tahun 2016 pasarnya senilai 93,1 miliar dolar AS. Adapun lima negara produsen utama adalah India, Uganda, Meksiko, Ethiopia, dan Filipina. Sedangkan tiga negara utama pasar produk organik adalah Amerika Serikat, Jerman, dan Perancis.

“Beberapa negara berkembang sudah mulai mempromosikan produk organik karena menguntungkan produsen dan konsumen. Selain itu, konsumen juga lebih menghargai produk hasil pertanian organik dibandingkan dengan produk nonorganik. Hal inilah yang harus dapat dimanfaatkan oleh para pelaku usaha untuk memasuki pasar ekspor,” jelas Marolop.

Tahun 2018, Kemendag telah menetapkan target pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 11% dan menetapkan strategi peningkatan ekspor yang salah satunya dengan perluasan pasar ekspor. “Ke depan, ekspor produk organik Indonesia diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar
untuk mencapai target ekspor nonmigas tersebut,”ujar Marolop. (mc)