Yudi Supriyono Salah Satu Promotor Industri Hidroponik

oleh
Foto: agronet.co.id

HKTI.ONLINE – Bertani hidroponik bukan metode baru, namun sekarang sedang naik daun dan ngetren di kalangan anak muda. Cara ini digemari karena untuk bercocok tanam tidak lagi perlu tanah dan lahan yang luas. Bahkan dapat menggunakan bahan bekas dan bisa menggantungkan tanamannya di tembok karena media tanamnya bukan tanah melainkan air. Satu hal lagi, bertanam dengan cara hidroponik relatif bersih dan lebih cepat panennya.

Bagi yang berminat belajar, sekarang banyak pusat-pusat pelatihan hidroponik berdiri. Salah satunya  yang tersohor adalah Parung Farm yang didirikan oleh Yudi Supriyono. Parung Farm sudah berdiri sejak 1997 di Bogor, Jawa Barat. Menurut Yudi, tujuan awal pendirian Parung Farm ialah menyediakan wadah pelatihan bagi masyarakat. Maklum saat itu, informasi mengenai seluk-beluk budidaya hidroponik masih terbatas.

Seiring dengan perkembangannya, Parung Farm pun menjual sayuran hidroponik ke berbagai supermarket di Jabodetabek. “Dari setiap pelatihan kan selalu ada hasil panennya. Nah, ternyata sayuran itu banyak peminatnya, sehingga kami memutuskan untuk memasarkannya,” tutur Yudi.

Akhirnya pada pertengahan 2003, Yudi mulai kegiatan komersial dengan mendirikan PT Kebun Sayur Segar dengan brand ”Parung Farm”. Parung Farm berkembang pesat dan memiliki jaringan kemitraan cukup luas. Dan kini perusahaan ini telah menjadi industri di bidang hidroponik yang mempekerjakan ratusan orang dengan omzet miliaran rupiah per bulannya.

Walaupun bukan yang pertama, namun dapat dikatakan Parung Farm salah satu yang terbesar di bidang budidaya hidroponik. Aneka tanaman yang dibutuhkan rumah tangga seperti tomat, paprika, melon, timun, sayur sawi, bayam hijau dan merah, kailan, selada, dan kangkung, dan lain-lain.

Awalnya Parung Farm punya lahan di Bogor seluas 4 hektar. Kemudian, produsen sayur hidroponik ini menambah lahan di Cianjur seluas 7 ha. Lokasi pengembangan berbeda karena ada beberapa jenis sayuran yang harus ditanam di dataran tinggi. Dari 7 ha lahan di Cianjur itu, Parung Farm menggunakan dua hektare lahan untuk pertanian hidroponik. Sementara sisanya digunakan untuk menanam sayuran dan buah organik.

Yudi menjelaskan peluang usaha dari pertanian hidroponik sangat menggiurkan. “Potensinya sangat bagus apalagi di masa depan,” tandas dia.

Hidroponik menjadi solusi yang tepat ketika lahan pertanian semakin sempit. Hidroponik merupakan sistem bertanam tanpa menggunakan media tanah. Sebagai pengganti, media tanam yang dipakai ialah air.

Pertanian dengan hidroponik juga memudahkan petani. Salah satunya, petani lebih mudah mengontrol nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Sementara itu,  kalau menggunakan tanah, nutrisi tak bisa dideteksi. “Kalau pakai air, kami bisa mengukur apakah nutrisi sudah cukup atau harus ditambah dengan pupuk,” ujar Yudi.

Sayuran hidroponik jadi pilihan masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas karena kualitasnya yang lebih baik dibandingkan dengan sayuran konvensional. Daya tahannya juga lebih lama, yakni mencapai empat hari. Sementara, sayuran yang ditanam dengan metode konvensional hanya bisa disimpan selama dua hari.

Hanya, menurut Yudi, kualitas sayuran hidroponik belum bisa menyamai sayuran organik. Pasalnya, tanaman hidroponik masih menggunakan bahan kimia sebagai pupuk. Akan tetapi, Yudi sama sekali tak menggunakan pestisida. “Bahan kimia yang kami gunakan bukan untuk mematikan hama, tapi mempercepat pertumbuhan tanaman,” jelas dia.

Yudi mengatakan, permintaan sayur hidroponik pun melonjak dari tahun ke tahun. Namun karena menyasar kelas ekonomi tertentu, sayuran hidroponik hanya dijual di supermarket dan belum menjangkau pasar tradisional. “Per tahun permintaan sayuran hidroponik naik 5%–15%,” ujar dia.

Keluarga petani

Lahir dari keluarga petani di Tulung Agung membuat Yudi Supriyono sejak kecil akrab dengan dunia pertanian. Oleh sebab itu di sekolah lanjutan atas, Yudi memilih masuk ke Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA).

Namun setamatnya dari SPMA, Yudi merasa harus pindah haluan. ”Saya merasa bosan. Keluarga saya petani dan kemudian sekolah di SPMA. Paling-paling nanti di perguruan tinggi juga sama yang dipelajari,” ujar Yudi. Rasa bosan ini yang kemudian membuat Yudi pindah ke Salatiga dan mengambil jurusan ekonomi di Universitas Kristen Satya Wacana.

Setelah menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1998, Yudi mendapat pekerjaan di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). ”Saya ditugasi untuk mengembangkan tanaman jarak di Lampung. Itu pada era Pak Habibie,” kenang Yudi. Namun beberapa hari sebelum keberangkatannya ke Lampung, Yudi diajak seseorang untuk mengembangkan hidroponik di Parung di atas lahan seluas 4 hektar.

Sebelumnya Yudi memang pernah mengenal hidroponik, sebagai salah satu alternatif teknologi pertanian. Saat itu hidroponik belum dikenal luas seperti saat ini. Namun Yudi yakin hidroponik memiliki peluang yang sangat bagus untuk dikembangkan.

Hampir selama dua tahun Yudi mendalami hidroponik dengan cara belajar dari buku, pada sarjana pertanian khususnya dari IPB, dan juga diskusi dengan para praktisi. Akhirnya pada pertengahan 2003 kegiatan komersial dimulai dengan mendirikan PT Kebun Sayur Segar dengan brand ”Parung Farm”.

Kegiatan Parung Farm tidak melulu hanya menanam. Sejak berdiri, telah ribuan orang datang berkunjung. Mereka adalah murid sekolah, mahasiswa S1 dan S2, dosen, penyuluh pertanian, ibu PKK, masyarakat umum lainnya. “Jika hanya ingin sekedar berkunjung kami tidak memungut biaya,” jelas Yudi.

Untuk mereka yang ingin belajar dan tertarik menanam dengan cara hidroponik, Parung Farm juga membuka kesempatan. Lokasi Parung Farm tidak jauh dari terminal Parung. Sebagai patokan di depan pintu masuk terdapat papan bertuliskan “Parung 546”.

”Satu orang pun kami layani jika ingin belajar,” ujar Yudi. Soal tenaga pengajar, jangan khawatir. Parung Farm memiliki tenaga ahli yang telah berpengalaman. Selain itu, jika ingin membeli peralatan hidroponik, Parung Farm juga dapat menyediakan sesuai dengan kebutuhan.

Parung Farm sadar betul bahwa sayuran yang dihasilkan harus lebih baik dari sayuran yang ditanam dengan konvesional. Apalagi tuntutan masyarakat saat ini lebih tinggi. Sayuran tidak hanya harus enak dan bersih, tapi juga harus bebas dari bahan kimia akibat pemakaian pestisida dan pupuk kimia.

Salah satu saran yang diberikan Yudi agar tanaman hidroponik tidak rentan diserang hama adalah lahan tidak boleh berada di lingkungan pertanian. ”Hama dari lahan pertanian dapat pindah ke lahan hidroponik kita,” jelas Yudi.

Pupuk alami

Untuk dapat memenuhi semua itu, Parung Farm hanya menggunakan pupuk dan pestisida yang bersifat alami. Pada 2010, sertifikat organik akhirnya diperoleh Parung Farm dari PT. Mutu Agung Lestari, salah satu Lembaga Akreditasi yang telah diakui dan disahkan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Sertifikat organik ini mengukuhkan Parung Farm sebagai perusahaan produsen sayuran berdaun (leafy vegetables) pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikat organik. Untuk menegaskan sayuran hasil panen Parung Farm benar-benar bebas pestisida, pada setiap kemasan pembungkus sayuran ditulis ”Bebas dan Tidak Mengandung Pestisida”.

Tidak hanya soal produksi, pemasaran pun digarap serius. ”Sudah tiga tahun ini saya fokus di pemasaran. Paling tidak kuliah saya terpakai,” ujar Yudi. Usaha Yudi tidak sia-sia. Paling tidak sebanyak dua belas mobil distribusi setiap harinya berangkat mengantar hasil panen Parung Farm dan mitranya ke supermarket dan toko buah di Bandung dan Jabodetabek.

Untuk memperluas pemasaran, Parung Farm juga menggandeng para petani hidroponik lain. Syaratnya, sudah barang tentu kualitas hasil panen harus sama baiknya dengan Parung Farm. Para mitra Parung Farm umumnya bertani di sekitar wilayah Bogor dan Puncak. Ini untuk memudahkan pengambilan dan pengantaran hasil panen. Tidak sedikit dari para mitra ini adalah mereka yang awalnya belajar dari Parung Farm.

Harga sayuran hidroponik di pasaran berkisar empat hingga enam kali lipat dari harga sayuran yang ditanam dengan cara konvensional. “Margin keuntungannya lebih bagus dari yang ditanam konvensional,” jelas Yudi. Namun agar kita tidak salah membeli sayuran hidroponik, Yudi menjelaskan bahwa sayuran hidroponik yang dijual selalu mengikutkan akarnya.

Yudi tidak hanya murah berbagi ilmu pada setiap orang yang membutuhkan keahliannya. Ia yang tinggal di kawasan perumahan di daerah Tajur, Bogor juga telah memberdayakan lahan tidur milik pemerintah daerah seluas 1.000 meter persegi, menjadi pertanian hidroponik. Sebelumnya lahan itu tak terurus dan menjadi beban masyarakat sekitarnya karena harus membersihkan secara rutin agar tidak menjadi semak belukar. Di tangan Yudi, lahan itu menjadi produktif dan berguna bagi masyarakat sekitarnya.

Bertani dengan cara hidroponik saat ini telah banyak dipilih oleh mereka yang hanya sekedar hobi atau juga yang serius mengembangkan sebagai sumber penghasilan. Ceruk pasarnya yang masih besar membuat usaha hidroponik dapat memberikan keuntungan yang menggiurkan. Apalagi rasa sayuran hidroponik juga lebih enak. “Lebih crispy,” ujar Yudi.

Dari sisi bisnis, Parung Farm juga omzetnya besar. Pada 2014 saja, Yudi bisa memproduksi 500 kg–700 kg sayuran hidroponik per hari. Pendapatan yang didapat dari label di bawah bendera PT Kebun Sayur Segar ini mencapai Rp 2 miliar–Rp 2,5 miliar per bulan. “Laba bersih yang didapat berkisar 15%-25%,” kata Yudi. Anda tertarik memulai bisnis sayuran hidroponik?

Harus ada greenhouse

Untuk menggeluti bisnis sayuran hidroponik, hal pertama yang harus dimiliki ialah modal, tenaga ahli dan pasar. Modal digunakan untuk menyewa atau membeli tanah dan mengolahnya sebelum jadi lahan pertanian. Meski tak menggunakan medium tanah, tanaman hidroponik butuh lahan yang rata agar pertumbuhan maksimal.

Selanjutnya, modal juga digunakan untuk membangun greenhouse. Yudi bilang, saat ini memang ada petani yang bertanam secara hidroponik tanpa greenhouse. Namun, resiko dan tantangannya lebih besar. Pasalnya, tanaman tidak terlindung atap. Jadi, kalau hujan tiba, tanaman bisa rusak. “Biaya perawatan bisa lebih besar lagi karena air hujan bisa mendatangkan penyakit pada tanaman. Dan karena kami tak pakai pestisida, pengendalian hama dan penyakit kami lakukan secara manual,” ujar dia.

Dalam membangun greenhouse, kata Yudi, yang harus jadi perhatian ialah jangan sampai salah perhitungan. Dari total lahan yang digunakan untuk hidroponik, petani harus bisa mengira-ngira, sehingga sekitar 60%–70% lahan efektif untuk tempat tanaman. Sisanya digunakan untuk jalan utama dan jalan tersier.

Greenhouse bisa dibangun dengan material bambu atau besi. Masing-masing bahan punya kelebihan dan kekurangan. Besi lebih tahan lama tapi harganya lebih mahal dan tak bisa diubah-ubah. Sementara, bambu lebih murah tapi hanya tahan tiga tahun. “Kami pakai bambu di Parung Farm,” ucapnya.

Mengacu pada taksiran biaya tahun 2014-an, Yudi mengatakan bahwa untuk membuat greenhouse dengan material bambu, menurut perkiraan Yudi, biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 60.000 hingga Rp 70.000 per meter. Sementara jika menggunakan besi, biayanya lebih besar lagi, yakni Rp 200.000 per m. Tiap meter persegi lahan bisa menampung 30 tanaman. Biaya itu, tambah Yudi, sudah termasuk plastik ultraviolet sebagai atap greenhouse.

Setelah greenhouse jadi, yang harus diperhatikan ialah tenaga ahli yang paham seluk-beluk pertanian, khususnya hidroponik. Pasalnya, pengawasan untuk sayuran hidroponik sangat penting. Pupuk yang digunakan merupakan racikan sendiri untuk memenuhi 13 nutrisi yang dibutuhkan tanaman.

Yang tak kalah penting ialah mendapatkan pasar. Maklum,  risiko bisnis hidroponik sangat tinggi. “Tidak mungkin petani menanam dahulu, baru menawarkan produknya pada klien,” tegas Yudi.

Ia menyarankan, pemain pemula memproduksi sedikit sebagai sampel. Setelah mendapatkan pasar, barulah membangun greenhouse dalam skala lebih besar dan mulai penanaman. Jadi, setelah dua bulan, pengiriman sayuran hidroponik untuk klien sudah bisa berjalan. Sistem yang dianut Parung Farm ialah tiap hari menanam, tiap hari pula memanen. “Jadi produksi dan penjualan bisa berlangsung terus-menerus karena pelanggan butuh kestabilan pasokan,” tandas Yudi.

Setiap bulan, pengeluaran Parung Farm meliputi pembelian benih sayuran, media tanam seperti polibag, pupuk, gaji karyawan tetap dan upah tenaga kerja harian, biaya listrik, dan biaya kemasan. Saat ini, tenaga kerja Parung Farm mencapai lebih dari 200 orang. Adapun sekitar 50 orang merupakan karyawan tetap.

Kini, minat masyarakat terhadap pertanian hidroponik meningkat, baik di daerah maupun di perkotaan. Maklumlah, sistem hidroponik memungkinkan bercocok tanam di lahan yang terbatas. Dari sinilah, terbuka peluang untuk menyelenggarakan pelatihan hidroponik.

Yudi bilang, pelatihan dan penjualan peralatan hidroponik bisa jadi pemasukan tambahan. “Jumlah peserta pelatihan dan pembeli hidroponik kita stabil sampai sekarang,” kata dia. Parung Farm mengadakan pelatihan hidroponik dua kali dalam sebulan. “Kelebihan Parung Farm, kami memanfaatkan greenhouse yang ada menjadi pelatihan praktek bukan teori semata,” tutur Yudi.

Setiap pelatihan, pesertanya bisa lebih dari 10 orang yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Biayanya Rp 850.000 per orang. Meski pelatihan hanya sekali, tapi Parung Farm membuka akses untuk konsultasi seumur hidup.

Untuk memudahkan peserta, Parung Farm juga menjual peralatan hidroponik berbentuk rak. Peralatan ini dibanderol dengan harga sekitar Rp 30 juta per unit dengan ukuran 1 meter x 2 meter. “Pembelinya tersebar hingga Papua,” tutur Yudi.   (MC dari sumber: kontan dan agronet.co.id)