Upaya Kembalikan Kejayaan Kelapa Dimulai dari Gorontalo

oleh
Ketua Umum HKTI Moeldoko memberi sambutan pada acara Temu Nasional Bupati Pemerhati Kelapa di Gorontalo, Senin (27/11)/Foto: Edy Soepadmo

HKTI.ONLINE – Sejumlah kepala daerah kabupaten mengadakan Temu Nasional Bupati Pemerhati Kelapa yang berlangsung 26-27 November di Gorontalo, Sulawesi. Pertemuan tersebut sebagai upaya untuk mengembalikan kejayaan pertanian kelapa Indonesia yang kondisinya kini terpuruk dibandingkan negara-negara penghasil kelapa lainnya.

Menurut data APCC (asosiasi internasional antarpemerintah penghasil kelapa), posisi produsen terbesar dunia saat ini diambil alih India sejak 2012. Produksi kelapa nasional Indonesia hanya 14,5 miliar butir, sedangkan di India berkisar 21 miliar butir. Produktivitas nasional pun sangat rendah berkisar 40 butir per pohon per tahun jauh di bawah India yang mencapai 112 butir.

Di sektor hilir nilai ekspor produk kelapa Indonesia di bawah Filipina. Negara kepulauan ini meraup devisa 1,7 miliar dolar AS atau 30% di atas Indonesia yang hanya berkisar 1,3 miliar dolar AS. Masalah lain saat ini banyak industri kelapa berhenti beroperasi atau tutup akibat kesulitan bahan baku.

“Pemerintah daerah harus mengambil peranan mengingat kelapa dan industrinya ada di daerah-daerah,” tutur Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo beberapa waktu lalu. Nelson mengatakan inisiatifnya mengadakan forum ini difasilitasi APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia) lanjutnya.

Ada banyak persoalan yang harus diselesaikan bersama, tutur Nelson Pomalingo. Ia didapuk menjadi koordinator sementara Koalisi Pemerintah Kabupaten Pemerhati Kelapa mengingatkan mendesaknya peremajaan kelapa nasional.

Bupati yang juga guru besar ilmu pertanian ini menuturkan bahwa 60% pohon kelapa di Indonesia sudah tua. “Kita perlu bersatu membangun kekuatan terutama menyambut bangkitnya pasar kelapa global,” ujarnya seperti dikutip tribunnews.

Terpuruk

Kini kelapa Indonesia kondisinya terpuruk. Di hulu, luas kebun terus menurun dari 3,83 juta hektar di tahun 2003 menjadi 3.56 juta hektar pada 2016 lalu.

Di Riau, misanya, diperkirakan sekitar 50 ribu hektar kebun kelapa beralih ke sawit. Alih lahan terutama terjadi 7-10 tahun lalu ketika harga kelapa sangat rendah.”Ekspansi sawit coba kami tahan,” tutur HM. Wardan, bupati Indragiri Hilir Riau yang memang dikenal giat memperjuangkan kelapa

Menurutnya, kelapa perlu dipertahankan dan dikembangkan. “Itulah salah satu alasan mengapa kami mengadakan  festival kelapa internasional 9-11 September lalu,” ujar Wardan. (mc)