Teknologi BJA Sukses Lipatgandakan Produktivitas Jagung Lahan Pasang Surut

oleh

HKTI.ONLINE — Proyek budidaya jagung lahan rawa pasang surut yang dilakukan Tim Ahli Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan PT FKS Multi Agro Tbk di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, sukses menghasilkan panen jagung berlipat ganda, dari biasanya sekitar 2 (dua) ton menjadi rata-rata 6 (enam) ton per hektar.

Panen raya perdana jagung lahan rawa pasang surut tersebut dihadiri oleh Kepala Staf Kepresidenan (KSP) yang juga Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Jenderal (Purn) Dr H Moeldoko. Pada kesempatan tersebut Moeldoko mengatakan, panen raya jagung kali ini merupakan pilot project di atas lahan marginal 120 hektare. Lahan ini sudah 15 tahun ditinggalkan petani. Sukses ini bisa diduplikasi untuk diterapkan di wilayah lain se-Jambi, bahkan se-Indonesia.

Sebelumnya hanya sekidit petani yang bersedia menanam jagung di lahan tersebut karena rendahnya hasil produksi. Jika mereka sukses pun hasil panennya maksimal hanya sekitar 2 (dua) ton saja per hektar.

Rendahnya produktivitas dan kualitas jagung yang dihasilkan menyebabkan petani banyak yang enggan mengolah lahannya. Bahkan lahan rawa pasang surut tersebut hampir 15 tahun dibiarkan menganggur.  Sampai kemudian datang tim ahli IPB yang dipimpin oleh Profesor Munif Ghulamahdi dan bekerja sama dengan FKS Multi Agro mengolahnya dan hasilnya luar biasa.

“Saya sangat bangga. Hasil panennya luar biasa. Dulu lahan ini gagal menghasilkan, maka 15 tahun tidak pernah diolah lagi oleh petani. Jadi lahan tidur yang nganggur. Sekarang produksi jagungnya bisa sampai tujuh atau delapan ton. Tapi rata-rata enam tonlah. Luar biasa,” tutur Prof Munif.

Terjadinya peningkatan produktivitas jagung di lahan rawa pasang surut tersebut tercapai melalui penggunaan teknologi Budi Daya Jenuh Air (BJA) yang ditemukan oleh guru besar IPB yakni Profesor Munif Ghulamahdi. Melalui teknologi ini lahan pasang surut dapat dimanfaatkan menjadi lahan yang lebih produktif. Bahkan tinggi pohon jagungnya ada yang mencapai hampir tiga meter.

Panen perdana jagung BJA  tersebut berlangsung pada Kamis (01/9/2018) di Desa Karya Bhakti, Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Panen dilaksanakan oleh KSP/Ketua Umum HKTI Moeldoko,  Asisten II Pemprov Jambi Agus Sunaryo, Bupati Tanjabtim Romi Haryanto, Wakil Bupati Tanjabtim Robby Nahliansyah, Komisaris PT FKS Multi Agro Fazwar Bujang, tim ahli IPB Prof Munif Ghulamahdi, Ketua DPP HKTI Jambi Usman Ermulan, dan sejumlah pimpinan aparat terkait.

Turut hadir dalam acara panen ini, antara lain, sejumlah kepala daerah pemkab di wilayah Jambi, pimpinan DPN HKTI, dan beberapa unsur pimpinan FKS Multi Agro seperti Po Indarto Gondo (direktur) dan Yanuar (mewakili pemegang saham). Tak ketinggalan sekitar 1.500 petani dari HKTI dan sejumlah poktan maupun gapoktan turut memeriahkan acara panen raya tersebut.

Potensi lahan pasang surut di Indonesia seluas 21 juta hektar, yang dapat dikembangkan untuk menjadi lahan pertanian mencapai sembilan juta hektar. Akan tetapi lahan tersebut menghadapi kendala yang sangat komplekyaitu fisikokimia, infrastruktur, sumberdaya manusia , dan pasar, sehingga sampai sat ini produktivitastanaman pangan (jagung, kedela, dan padi) masih sangat rendah.

“Inovasi teknologi yang dapat diterapkan untuk mengatasi kendala di lahan pasang surut adalah dengan penerapan teknologi Budidaya Jenuh Air (BJA) yang ditemukan oleh Profesor Munif Ghulamahdi,” kata Toyip Hadinata, salah satu tim ahli IPB.

Menurut Prof. Munif, teknologi BJA sangat sederhana sehingga mudah diaplikasikan oleh petani. Ia memanfaatkan BJA sejak 1998 di lahan biasa kemudian sejak 2009 sampai sekarang diaplikasikan di lahan pasang surut. Hasilnya juga sangat memuaskan. Banyak ahli dari luar negeri yang memuji dan tertarik dengan teknologi ini.

 

Secara keseluruhan lahan budidaya berteknologi BJA yang dikelola Tim Ahli IPB dan FKS Multi Agro di kecamatan Rantau Rasau mencapai 120 hektar. Budidaya tanaman jagung seluas 95 hektar, kedelai 10 hektar, dan padi 15 hektar.

Varietas jagung yang di tanam adalah varietas hibrida Pioner 32, varietas Bhisma dan varietas sukmaraga. Varietas padi adalah inpara 3. Varietas kedelai adalah anjasmoro dan Tanggamus.

Kegiatan budidaya di lahan pasang surut itu mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah dengan keterlibatan dinas pertanian dan petani setemat. Kelompok tani yang terlibat sebanyak empat kelompok dan dua Gapoktan.

“Untuk pengembangan dan kesuksesan ke depan diperlukan kerja sama semua sektor yaitu pemerintah, akademisi, pengusaha, dan petani. Hal yg perlu difokuskan adalah, pertama  perbaikan tata air makro dan mikro, kedua  penggunaan alsintan yang tepat guna, ketiga  jaminan harga,” tutur Toyip yang juga kandidat doktor pertanian.

Menurut data Bappeda tahun 2000, Provinsi Jambi diperkirakan memiliki lahan rawa seluas 684.000 ha. Dari luasan tersebut berpotensi untuk pengembangan pertanian 246.481 ha terdiri dari lahan lahan rawa pasang surut 206.832 ha dan lahan non pasang surut seluas 40.521 ha. Lahan pasang surut di Provinsi Jambi sebagian besar terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur.

Lahan pasang surut Provinsi Jambi telah lama diusahakan oleh penduduk lokal maupun penduduk transmigrasi. Tanaman yang diusahakan petani selain padi adalah palawija (jagung dan kedelai). Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa lahan rawa pasang surut cukup potensial untuk usaha pertanian baik untuk tanaman pangan, perkebunan, hortikultura maupun usaha peternakan bila ditopang teknologi dan manajemen pertanian yang baik.

Dengan suksesnya budidaya jagung lahan pasang surut di Rantau Rasau, Tanjabtim, ini maka PT FKS  dan tim ahli IPB mewacanakan untuk menerapkannya di seluruh wilayah Jambi bahkan nasional. Oleh karena itu mereka menggandeng HKTI sebagai refresentasi petani untuk mewujudkan rencana tersebut. Pemerintah daerah Jambi, baik provinsi maupun kabupaten, sangat mendukung rencana tersebut.

Untuk itu, dalam acara panen jagung di Rantau Rasau ini dilakukan juga penandatangan nota kesepahaman (MoU) tentang pemanfaatan Teknologi Budidaya  Jenuh Air Lahan Pasang Surut untuk mendukung pertanian padi, jagung, dan kedelai nasional. Mou ini melibatkan tiga pihak, yakni HKTI, IPB (tim ahli), dan PT FKS Multi Agro Tbk.

Bagi HKTI, kesepahaman ini sesuai dengan visi dan misi HKTI sebagai lembaga yang bertugas menjembatani kepentingan petani dengan berbagai pihak. “HKTI akan berperan sebagai bridging institution dalam sistem inovasi pertanian. Dimulai dengan membangun kemitraan riset dengan universitas, perusahaan, pemerintah, dan komunitas (civil society),” kata Moeldoko.

Sementara PT FKS Multi Agro juga menyatakan siap mendukung setiap program pengembangan pertanian dan pangan Indonesia. FKS Multi Agro Tbk berdiri sejak 27 Juni 1992 dengan nama PT Fishindo Kusuma Sejahtera (FKS) dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada 1993. Perusahaan ini FKS menjadi pemasok terbesar untuk bahan baku di sektor pakan dan pangan.

Kegiatan usaha FKS terutama bergerak dalam bidang industri dan perdagangan yang meliputi perikanan, bahan pakan protein, produk turunan jagung (tepung jagung gluten dan  pakan jagung gluten), dan bahan baku pangan (kacang kedelai).

Pada 1999, FKS memperluas cakupan kegiatannya dengan memproduksi tepung bulu dan sejak tahun 2000 mulai mendistribusikan bahan baku pakan ternak lainnya yang mana tidak diproduksi di dalam negeri. FKS kemudian “go public” pada 2002 dan tercatat pada PT Bursa Efek Indonesia.

Pada 2006, nama perseroan berubah menjadi PT FKS Multi Agro Tbk. Perseroan melakukan diversifikasi berbagai produk termasuk bahan baku pangan dengan mendistribusikan kacang kedelai. Perseroan menjadi pemasok terbesar untuk bahan baku di sektor pakan dan pangan. Bahan baku pakan mencakup bungkil biji-bijian penghasil minyak, hasil penggilingan biji-bijian berikut turunannya, bahan pakan berprotein, sedangkan bahan baku pangan mencakup biji-bijian dan biji-bijian penghasil minyak. (MEDIA CENTER – HKTI)