Pertanian Berbasis Teknologi untuk Atasi Iklim

oleh -1.467 views

HKTI.ONLINE – Pertanian Indonesia ke depan harus berbasis teknologi sehingga dapat mengatasi persoalan perubahan iklim maupun fenomena alam. “Pertanian ke depan adalah pertanian yang berbasis teknologi. Bukan lagi pertanian yang berbasis atau mengandalkan intuisi dari para petani saja. Tapi kita harus merekayasa sehingga perlu sumber daya manusia yang cerdas,” kata Guru Besar Agrometeorologi Geomet-FMIPA IPB, Prof Yonny Koesmaryono.

Yonny mengatakan perubahan iklim merupakan fenomena yang harus disiasati sebagai faktor kondisi yang tidak bisa dielakkan. Sebagai negara tropis, iklim Indonesia dipengaruhi oleh dua musin yakni kemarau dan penghujan.

Ia mengatakan perubahan iklim tidak bisa dielakkan, namun dapat disiasati agar bisa hidup dalam situasi seperti apapun. Kondisi di negara tropis dengan banyak perubahan terjadinya elnomo serta dipolmode di bagian Barat dan Timu yang memicu timbulnya kemarau panjang. “Melihat kondisi cuaca seperti ini, ke depan pertanian harus adaptip oleh permaslaahan ini,” katanya seperti dikutip Antara beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Yonny mengatakan jika berbicara produksi pertanian, apapun teknologi yang digunakan pasti membutuhkan air. Air bersumber salah satunya dari hujan. Oleh karena itu, diperlukan teknologi yang dapat memprediksi curah hujan.

“Bersamaan dengan itu, kita juga berupaya membangun resevoarnisasi, menampung air di embung dan daerah resapan seperti situ maupun kolam resapan lainnya,” katanya.

Kedepan, lanjut Yonny, negara tidak lagi dipusingkan ketika hujan terjadi banjir, atau kebakaran terjadi kekeringan dan kebakaran. Pemikiran negatif harus diubah menjadi pemikiran positif.  “Ini suatu tantangan bagaimana kita selaku manusia intelektual tinggi menyiasati kondisi itu,” katanya.

Penguatan teknologi benih juga diperlukan dalam menyiasati perubahan iklim, dengan menciptakan benih yang dapat produktif di lahan kering, atau benih yang efisien dalam penggunaan air.

Menurut Yonny, untuk menghasilkan penelitian tersebut diperlukan sinergitas antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan serta petani. Selama ini antara perguruan tinggi, pemerintah, balitbang dan petani berjalan sendiri-sendiri.

“Perlu ada dirjen yang mensinergikan semua komponen ini. Apa melakukan apa, perlu disinergikan. Ibarat sebuah lagu yang dimainkan oleh masing-masing pemain, ada gitar, bass, drum, tetapi mereka bisa berkolaborasi. Alatnya berbeda tetapi instrumen menjadi sebuah lagu yang enak,” kata Yonny.

Sinergi ini, lanjut Yonny, dapat terbentuk jika pemerintah berkomitmen untuk mensejahterakan masyarakat melalui ketahanan pangan. Pemerintah dapat mensinergikan lembaga-lembaga terkait dalam satu wadah yang mampu bekerja bersama-sama menyelesaikan persoalan pertanian.

“Bagaimana Balitbang pertanian, perguruan tinggi dan masyarakat disinergikan melakukan penelitian. Kalau masayarakat tidak bisa sertifikasi kita bantu, ini peran Kementan yang tidak hanya punya program untuk proyek saja tetapi juga bisa mensejahterakan masyarakat,” kata Yonny yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor IPB bidang Akademik dan Kemahasiswaan. (mc)