Nyus, Kopi Sumatera Favorit Starbucks di Seluruh Dunia

oleh

 

Foto; Kompas.com

HKTI.ONLINE – Kopi Sumatera ternyata menjadi kopi paling digemari di gerai kopi Starbucks, bukan hanya di Indonesia namun juga di mancanegara. “Kopi Sumatera sangat kuat dan bisa dinikmati dengan ragam cara,” ungkap Direktur Starbucks Indonesia, Anthony Cottan.

Bicara dalam temu media di Starbucks Oakwood, Jakarta, Selasa (6/3/), Cottan mengatakan bahwa Starbucks punya ragam pilihan biji kopi dari banyak negara seperti Colombia, Ethiopia, Kenya, hingga Indonesia khususnya Sumatera.

“Kami menjual lebih dari 10 jenis biji kopi, tapi kopi Sumatera selalu menjadi nomor satu. Tak hanya di Indonesia, juga di seluruh dunia,” kata Direktur Starbucks Indonesia Anthony Cottan

Menurut pria asal Inggris itu, kopi Sumatra dinilai paling seimbang karakternya, selain juga rasa kopinya sangat kuat. Berbeda dengan kopi asal Amerika Latin yang ringan, dan Afrika yang terlalu floral atau fruity.

Karakteristik berbeda dari biji kopi Sumatera itu dianggap pas untuk campuran bahan lain seperti gula dan susu, tanpa menghilangkan rasa dan aroma kopi. Oleh karena itu bisa dinikmati dengan beragam cara.

Anthony Cottan adalah orang yang sejak awal membidani kehadiran Starbucks di Indonesia di bawah bendera PT Mitra Adi Perkasa Tbk (MAP). Perusahaan pemegang lisensi ini melansir gerai perdana Starbucks di Indonesia pada 2002. Sebelas tahun kemudian, MAP telah mendirikan sekitar 160 gerai Starbucks dan terus bertambah dengan cepat hingga saat ini.

Dari semua jenis kopi di Tanah Air, kopi Sumatera menjadi sajian pilihan utama gerai kopi asal Amerika itu. “Kopi Sumatera yang kami jual meraih penjualan tertinggi di dunia. Starbucks seluruh dunia pasti sediakan kopi Sumatera. Kalau kamu pergi ke Amerika dan Inggris, yang paling disukai itu kopi Sumatera,” tutur Cottan.

Pria yang kerap mengenakan batik ini mengakui sudah tidak mengingat lagi kapan pertama kalinya dia jatuh cinta dengan kopi Sumatera. “Saya orang Inggris. Orang Inggris punya budaya minum teh. Di rumah selalu sedia teh. Tapi di kantor, saya bisa menghabiskan enam gelas kopi setiap hari. Saya termasuk coffee addicted, pecandu kopi. Dan itu adalah black coffee dari kopi Sumatera, my most favourite at all. Makanya saya sampai punya mesin kopi sendiri dikantor,” bebernya.

Cottan mengaku beruntung berada di Indonesia, karena berdekatan dengan asal perkebunan kopi yang paling digemari seluruh pengunjung Starbucks dunia. Kedekatan itu tak ia sia-siakan.

Lewat Starbucks Farmer Support Centre, para petani kopi diberikan pelatihan serta pengetahuan untuk lebih mengembangkan hasil panen.

Meskipun hubungan antara Starbucks dan para petani kopi di Indonesia, khususnya Sumatera telah terjalin lebih dari empat dekade, gerai kopi asal Amerika itu berkomitmen terus menjaga hubungan ke depan. Salah satu cara yakni membuat kampanye ‘Art in a Cup’.

Kampanye ini menghadirkan empat varian menu — Caramel Cream Frappucino Affogato Style, Caramel Macchiato, Vanilla Sweet Cream Cold Brew dan Iced Matcha & Espresso Fusion dengan harga Rp 35 ribu.

Starbucks juga punya program akan menanam satu pohon kopi dari setiap 10 gelas yang terjual dari empat minuman spesial tersebut. Selain itu, 10 persen penjualan dari kemasan biji kopi Sumatra juga akan disumbangkan untuk kesejahteraan warga di lingkungan perkebunan kopi di Sumatra mulai dari perbaikan fasilitas sekolah sampai dengan tempat tinggal.

“Para petani adalah awai dari komitmen kami di Sumatera, selanjutnya kami sadar akan peran serta masyarakat dan petani kopi yang memungkinkan keberhasilan tumbuhnya kopi tersebut,” tutur Cottan seperti dilansir laman kompas.com.

Salah satu pemasok kopi Sumatera ke Starbucks berasal dari kelompok tani asal Simalungun, Dataran Tinggi Danau Toba. Para petani ini berhimpun dalam Koperasi Produksi Sumatera Arabika Simalungun yang dibentuk pada 2006.

Menurut ketua koperasi, Ludi Antoni Damanik, beberapa waktu di Jakarta, kopi mereka telah memiliki sistem quality control yang baik dan satu pintu sehingga kualitas, kuantitas, dan kontinuitasnya terjamin. Oleh karena itu berhasil mendapatkan hak paten geografis dari Kemenkum HAM pada tanggal 24 April 2015, yang disebut Arabika Sumatra Simalungun (berada di dataran tinggi Sumatera Utara Danau Toba).

Produknya terdiri atas green bean (kopi beras), roast bean (kopi sangrai), dan kopi bubuk pada tahun 2011 dengan merek Sabaas (kopi ground). Green bean dan roast bean telah diekspor ke berbagai negara.

Ludi bercerita, awal mula produknya dikenal dunia setelah kelompok tani ini kedatangan tamu dari Starbucks origin experiences pada tahun 2011-2015. Ada sekitar 105 manajer gerai kopi di 65 negara yang datang ke kelompok tani ini belajar bersama petani membibit kopi, menanam dan merawat, membuat tamanan pohon pelindung kopi, dan memangkas kopi.

Mengapa biji kopi kelompok tani ini dilirik Starbucks? Ia mengaku, keunggulan produknya menggunakan kopi ramah lingkungan misalnya tanpa menggunakan pupuk kimia.

“Awalnya memang kelompok ini mengembangkan kopi yang ramah lingkungan. Kita memang mempergunakan alat di budidayanya tanpa menggunakan pupuk kimia. Starbucks itu pesan kopi yang green bean dan roast bean dari kami, malah ekspor yang paling besar berasal dari Amerika yaitu 20 ton selama sebulan atau sekitar Rp 1,9 miliar,” ungkap Ludi seperti dikutip dari laman detik.com.

Favorit pemilik Starbucks

Beberapa tahun lalu, kepada media, Cottan pernah menyebutkan bahwa salah satu pemilik Starbucks, Howard Schultz, disebutnya sebagai pecandu kopi Sumatera. Tapi dengan kelas yang sudah berbeda.

“Mr Schultz punya kopi Sumatera favorit. Namanya Aged Sumatera. Itu kopi spesial dengan perlakuan spesial. Proses membuatnya mirip anggur karena butuh waktu tiga hingga lima tahun mengolahnya. Harus lewati waktu yang lama untuk mengeluarkan seluruh karakter asli rasa kopi tersebut. Melalui proses spesial di gudang kami. Tidak disimpan begitu saja selama bertahun-tahun, tapi dibolak-balik dan dipantau ketat perkembangannya,” tutur Cottan.

“Proses itu membuat ukuran biji kopi akan semakin mengecil. Tapi aroma dan cita rasanya akan semakin kuat. Tidak semua jenis kopi bisa melalui proses spesial ini dan menjadi aged coffee. Tapi di antara semua jenis kopi yang bisa, kopi Sumatera paling terbaik hasil akhirnya. Itu sebabnya Aged Sumatera paling terbaik sampai saat ini dan belum ada pesaingnya.”

Howard Schultz mengenal kopi Sumatera sejak sekitar 1981. Kala itu, di satu pagi, ia duduk di salah satu meja Starbucks. Bau kopi panas semerbak tercium memenuhi gerai kopi itu. Riuh pramusaji menyendok biji-biji kopi dari sebuah wadah, yang lantas digiling hingga menjadi bubuk. Bubuk kopi itu dituangkan ke dalam saringan berbentuk kerucut, diikuti air panas. Pengunjung toko kopi itu berdecak kagum atas ketangkasan si pramusaji.

Perlahan para pengunjung menghirup dan menyeruput kopi panas mereka, termasuk Schultz. Dan ia kemudian terbelalak dan berdecak. Sungguh, kopi itu membuat paginya tersentak. Aromanya begitu kuat dan juga berat. Ternyata kopi yang diminumnya ialah kopi arabika asal Sumatera.

Sejak saat itu, Schultz selalu mengawali paginya dengan meminum kopi arabika Sumatera. Kisah itu tercantum dalam bukunya yang berjudul Pour Your Heart Into It: How Starbucks Built a Company One Cup at a Time.

Seperti dilansir dari laman agrofarm, pada 1987 Schultz kemudian mengakuisisi Starbucks yang lalu menjadi Starbucks Corporation. Pada 2012, omzet warung kopi global itu sekitar USD 13 miliar. Tak salah jika Forbes pada 2013 menobatkan Schultz sebagai salah satu orang terkaya di Amerika Serikat, dengan harta yang ditaksir sekitar USD 2 miliar.

Data yang didapat Agrofarm menjelaskan,  era 1970-an, Indonesia sebenarnya telah memasok biji-biji kopi ke Starbucks, Seattle, Amerika Serikat. Sejak saat itulah Starbucks begitu lekat dengan Indonesia. Apalagi, Starbucks juga menjual biji dan bubuk kopi jenis arabika asal kawasan tertentu (single-origin), di samping kopi racikan (blend).

Kopi dari Nusantara dipasarkan dengan nama “Starbucks Sumatera”, “Starbucks Reserve Isla Flores”, serta “Starbucks Reserve West Java”. Lebih lagi, “Starbucks Sumatera” menjadi salah satu produk Starbucks terlaris di dunia. Sementara, beberapa kopi dari negara lain hanya menggunakan nama negaranya saja misalnya, “Starbucks Ethiopia”, dan “Starbucks Reserve Colombia Caldas”.

Howard Schultz pernah berkunjung ke Indonesia pada 2014 dan bahkan mencanangkan ekspansi bisnis yang lumayan fenomenal: membuka 100 gerai baru dalam tempo tiga tahun ke depan.

“Indonesia telah dipandang sebagai salah satu pasar utama Starbucks yang tengah berkembang. Dan kami akan tetap berinvestasi di Indonesia untuk mendukung rencana pengembangan usaha dengan disiplin,” papar Schultz dalam keterangan persnya.

Starbucks memang sukses mengubah budaya ngopi-ngopi (di warung kopi) menjadi gaya hidup masa kini. Kopi menjadi tren. Tak hanya menjajakan kopi berkualitas, Starbucks juga ‘menjual suasana dan sentimen’. Tata letak dan desain gerai, kisah dan sejarah di balik budi daya kopi, serta hal-hal lain yang dapat menggugah seseorang mencicipi kopi Starbucks. Nah, kesuksesan inilah yang menjadi ‘tamparan’ bagi Indonesia, yang notabene salah satu produsen kopi terbesar dunia.

“Indonesia dikenal memiliki modal kekayaan biji kopi yang luar biasa, mulai dari Lampung, Ungaran, Toraja, hingga Aceh dan Sumatera. Sedihnya, biji-biji kopi hebat itu hanya diolah dengan cara tradisional. Alhasil, (kopi tersebut-Red) di warung paling banter laku Rp 5.000,” tukas Basri Adhi, pemilik gerai Misterblack Coffee.

Basri yang pernah berkarir sebagai pegiat marketing di koran Republika ini mengatakan, pelaku usaha di Indonesia sering kali latah. “Kita sering tak percaya diri. Tapi, ketika perusahaan global seperti Starbucks telah sukses, kita lalu ikut meniru-nirunya.”

Sebetulnya, peluang bagi pelaku usaha lokal masih terbuka luas. Menurut Basri, usahawan muda yang baru merintis bisnis itu bisa menggunakan kemampuan kreatifnya dalam membangun merek lokal yang kuat dan bernilai tambah. Dengan begitu, produk dan merek lokal bisa menjadi pilihan nomor satu di rumah sendiri. (mc/dari berbagai sumber).

 

.

.