Moeldoko: Pada 2019 HKTI Harus Miliki Resolusi Bermanfaat bagi Petani

oleh

HKTI.ONLINE – Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Jenderal (Purn) Dr Moeldoko, meminta pada 2009 ini HKTI harus memiliki resolusi yang bisa memberikan manfaat nyata dan dirasakan oleh petani. Oleh karena itu ia menginstruksikan seluruh jajaran pengurus organisasi agar menjalankan fungsi HKTI sebagai  bridging institution.

HKTI harus menjadi jembatan yang menghubungkan petani dengan dunia riset, perguruan tinggi, lembaga pemerintahan termasuk BUMN, lembaga keuangan, dunia usaha, dan semua pemangku kepentingan pertanian lainnya termasuk kaum milenial. “Ini instruksi dan ini harus dijalankan,” tegas Moeldoko ketika memberi pengarahan pada rapat pleno HKTI, Rabu (9/1/2019) di Jakarta.

Moeldoko menyatakan dirinya tidak pernah bosan-bosan mengatakan di mana-mana agar HKTI menjadi bridging institution, tujuannya supaya HKTI betul-betul dapat dirasakan kehadiran dan manfaatnya oleh petani. Maka dari itu kerjakan fungsi itu dan bangun kerja sama dengan berbagai pihak. “Jadi HKTI membumi dan tidak mengawang-ngawang,” ujarnya.

Pengurus HKTI diminta aktif dan proaktif untuk menjalin relasi dan kerja sama dengan berbagai pihak. Tangkap peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan dari mereka untuk membantu petani. Semua elemen pengurus harus bergerak.

Pertama, lakukan relasi dan kerja sama dengan lembaga riset serta perguruan tinggi. Misalnya dengan Batan, LIPI, BPPT, IPB, dan lain-lain. Lembaga-lembaga tersebut memiliki berbagai teknologi hasil inovasi di bidang pertanian. “Kita datangi dan kita minta untuk diaplikasikan ke petani,” kata Moeldoko.

Kedua, menjalin hubungan dan kerja sama dengan lembaga-lembaga pemerintahan. Menurutnya, pembentukan wakil ketua umum bidang hubungan antarlembaga di HKTI tugasnya adalah membangun komunikasi dan relasi-relasi tersebut.

“Optimalkan kerja sama dengan kementerian pertanian, misalnya. Contohnya saya sudah bicara dan minta agar HKTI bisa mendapatkan ruangan di kementan. Mereka prinsipnya sudah setuju. Ini harus di-follow up,” tuturnya.

Ketiga dengan lembaga keuangan. Moeldoko memberi contoh bagaimana ia menjalin relasi dengan BRI agar petani memiliki kemudahan akses kepada permodalan, terutama KUR (Kredit Usaha Rakyat). “Insya dalam satu dua minggu ini MoU HKTI dan BRI akan ditandatangani,” ujarnya.

Keempat, kerja sama juga bisa dilakukan dengan social enterprise atau dunia usaha. Menurutnya, selama ini HKTI telah berhasil menjalin kemitraan dengan FKS Multiagro, Charoen Pokphan, Indofood, Japfa, dan lain-lain. Ini perlu dijaga dan dikembangkan lebih luas.

“Misalnya, Indofood butuh bawang merah, cabai, dan lain-lain. Ini peluang yang harus dimanfaatkan. Atau Kacang Garuda. Banyak lahan kosong kita bisa manfaatkan untuk kerja sama dengan mereka. Jadi jangan diam saja. HKTI harus aktif bergerak. Masa saya saja yang aktif. Saya juga sekarang sangat sibuk,” ungkap Moeldoko.

Ia minta HKTI membuat surat kepada Kementerian Agraria dan Tata Ruang Republik Indonesia atas namanya agar HKTI dapat turut serta dalam program reformasi agraria khususnya distribusi lahan pertanian. HKTI dapat mengajukan dan memperoleh lahan nganggur untuk digunakan jadi lahan produktif.

HKTI juga bisa memanfaatkan perhutanan sosial yang sekarang boleh digunakan masyarakat selama 35 tahun. Dalam hal ini HKTI dapat menggandeng Kelompok Tani/Gapoktan/Koperasi atau Lembaga Masyarakat Desa Hutan. “SK perhutanan sosial ini bisa digunakan sebagai agunan ke perbankan. Jadi, sekali lagi lakukan!” ujar Moeldoko.

Kelima jalin juga relasi dan kerja sama dengan aktor-aktor pertanian lainnya termasuk dengan kelompok milenial. Ajak mereka berpartisipasi di dunia pertanian dan berikan apresiasi. Jadi HKTI juga nyambung dengan milenial.

Keenam kerja sama luar negeri. Menurut Moeldoko, sejak ASAFF lalu dia sudah membuka jalan dengan beberapa negara antara lain Taiwan dan Jepang. Mereka sudah membantu HKTI dan kemudian menawarkan kerja sama. “Tapi tidak ada yang melanjutkan. Berhenti. Ayo kejar lagi,” tegasnya.

Moeldoko juga mengatakan sudah bertemu dengan beberapa asosiasi pertanian di Asia. Dari pertemuan itu diketahui bahwa waktu panen mereka banyak yang berbeda dengan di sini. Misalnya ketika Indonesia panen bawang atau cabai, mereka tidak. Jadi mereka butuh pasokan atas komoditas tersebut. Ini peluang. Informasi ini kita butuhkan agar kita bisa memanfaatkan peluang pasarnya.

“Nanti kita undang asosiasi-asosiasi Asia itu. Paling masing-masing mengirim dua orang dan akomodasinya kita siapkan. Ini kita lakukan agar ada emosi yang dibangun antara HKTI dengan organisasi-organisasi luar negeri,” cetus Moeldoko di depan peserta rapat.

Rapat Pleno Pengurus Pusat diselenggarakan Dewan Pengurus Nasional (DPN) HKTI pada Rabu 9 Januari 2019 di Sekretariat HKTI, Jl Tebet Timur Raya No 57 membahas evaluasi program kerja 2018 dan rencana kerja 2019. Rapat dipimpin Sekretaris Jenderal HKTI Mayjen (Purn) Bambang Budi Waluyo.

Menurut Moeldoko, sepanjang 2018 sudah banyak program yang dilaksanakan namun belum cukup memuaskan. Belum ada yang betul-betul punya arti di hati petani. Selama ini aktivitas HKTI masih lebih banyak yang sifatnya event dan seremoni saja.

“Saya bukan tidak mengapresiasi pekerjaan dan pencapaian teman-teman selama ini, tapi saya belum puas. HKTI harus punya arti di hati petani sebab menjadi pengurus HKTI juga panggilan hati, modalnya semangat. Jadi saya harap harus ada resolusi HKTI di tahun 2019,” tutur Moeldoko.

Dari sekarang, pinta Moeldoko, segera rancang program kegiatan besar HKTI, yakni program setengah tahun, setahun, dan dua tahunan. “ASAFF (Asian Agriculture and Food Forum) yang bersifat internasional jadikan kegiatan besar dua tahunan. Nanti kita adakan di 2020 dan kita harus tetapkan waktunya dengan melihat musim buah-buahan,” tutur Moeldoko.

Dalam arahanya, Moeldoko juga berharap pada 2019 ada kemajuan kegiatan HKTI. Untuk itu ia minta semua pengurus disiplin dan serius. Hindari konflik dan friksi internal yang tidak perlu.

“Saya tidak suka ada konflik dan friksi-friksi. Ini kan namanya organisasi kerukunan, kalau nggak rukun ganti saja namanya. HKTI adalah organisasi yang dinamis, menyenangkan, dan produktif. Kerja sama adalah kunci karena yang kita punya hanya modal semangat,” pesan Moeldoko. (MC)