Moeldoko akan Bagi Saham Perusahaannya kepada Petani

oleh -1.258 views
Moeldoko dalam CEO Talk Bizcom/foto; Pauline D

HKTI.ONLNE – Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Jenderal (Purn) Moeldoko menginginkan agar petani Indonesia memiliki nilai tinggi, sehingga dapat meningkatkan taraf hidupnya. Salah satu caranya adalah petani bisa bekerja sama dengan mitra kerja yang kompeten dan memiliki komitmen.

Mitra kerja tersebut adalah pengusaha dan investor agrikultur yang dapat mengakomodasi produk-produk pertanian. “Caranya mengelola itu adalah buat strategic partner dengan pengusaha yang punya komitmen. Enggak bisa lagi ke pemerintah daerah yang kelola,” ujarnya ketika memberikan sambutan dalam acara CEO Talks yang digelar Bizcom, di Jakarta, Kamis (25/1/2018).

Itulah salah satu inovasi dalam ekosistem pertanian yang telah dan akan terus dilakukan oleh HKTI. “HKTI akan berperan sebagai ‘bridging institution’ dalam sistem inovasi pertanian, sehingga petani akan mendapatkan kepastian dalam usahanya,” kata mantan panglima TNI ini.

HKTI telah bekerjasama dengan berbagai pihak, menggerakan dan menggunakan berbagai lahan produktif untuk petani dan memajukan pertanian Indonesia. HKTI juga terus mengembangkan teknologi dan inovasi untuk memodernisasi petani dan pertanian.

Dia menambahkan, jika ekosistem inovasi bisa berjalan kondusif, terutama dalam kebijakan inovasi, maka rantai nilai pertanian akan berkembang menjadi dunia agribisnis yang baik dan sehat seperti yang terjadi pada negara-negara maju.

Moeldoko yang kini menjabat Kepala Staf Kepresiden (KSP), menceritakan pernah menyampaikan saran kepada Presiden Jokowi bahwa jika perlu, petani tidak hanya bisa menjual gabah, melainkan bisa menjual beras secara langsung.

“Dalam diskusi dengan Presiden, saya katakan ingin nilai petani tinggi. Kalau hanya jual gabah enggak tinggi, lalu cari caranya supaya bisa jual beras,” paparnya dalam diskusi yang mengangkat tema “Value Investing in Agriculture Crowdfunding” tersebut.

Menurutnya Presiden setuju dengan sarannya. “Presiden  sangat memperhatikan petani, selalu berpikir bagaimana supaya petani bisa makmur dan sejahtera,” ujarnya.

Moeldoko sendiri menyatakan dirinya sudah merencanakan untuk memberikan porsi saham perusahaan agrikultur miliknya ke petani yang selama ini menjadi mitra. “Begini, petani saya ingin berikan sebagian saham saya ke petani. Namun, bukan beri begitu saja, tapi harus sama-sama untung,” tuturnya.

Acara tersebut menghadirkan pembicara Chairman Tani Fund Pamitra Eka, CEO Vestifarm Dharma dan  Director of Fintech Licensing, Supervision and Regulation OJK Hendrikus Passagi. Moderator diskusi adalah Kepala Bidang AgroTech ATSINDO Sunil Tolani.

Kepada para CEO yang hadir, Moeldoko mengajak untuk turut memajukan pertanian dengan terjun sebagai pelaku usaha atau investor pertanian.  Menurutnya masih banyak potensi yang belum tergarap optimal di bidang pertanian.

Moeldoko juga mengajak masyarakat, khususnya pelaku financial technology (fintech) di bidang pertanian, sering-sering terjun ke lapangan untuk mengetahui kondisi real yang dihadapi oleh para petani

Masalah petani

Moeldoko berpose bersama panitia dn peserta CEO Talk Bizcom/Foto: Pauline D

Dalam sambutannya Moeldoko juga mengutarakan tentang persoalan petani dan pertanian di Indonesia. Di antaranya persoalan tanah, modal, teknologi, manjerial, dan pascapanen.

“Pertama persoalannya tanah. Tanah kita sempit. Rata-rata petani kita hanya punya tanah 0,2 hektare. Sudah begitu kondisi tanahnya rusak karena penggunaan pestisida dan pupuk anorganik yang berlebihan,” ujar Moeldoko.

Persoalan modal, terbatasnya modal dimainkan oleh para tengkulak dan pengijon yang pada akhirnya petani dalam kondisi lemah, kalah dan terlilit utang.

“Sehingga saat dia akan panen, mereka dikuasai para tengkulak. Saya sempat kelakar dengan Presiden, saat akan panen, petani itu sudah mau kelelep. Modal untuk beli benih, beli pupuk, modal kerja. Kita juga memiliki ketergantungan benih sangat tinggi pada negara lain, apalagi pestisida,” tuturnya.

Petani juga belum merespons teknologi dengan baik. Petani masih suka menggunakan cara lama meski sudah jelas hasilnya rata-rata hanya 4-5 ton per hektar.

“Banyak yang merasa jagoan karena selama ini hidupnya di pertanian. Pendampingan oleh anak muda sering diremehkan. Saya sering tanyakan ke petani, kamu merasa jago bertani tapi kenapa enggak kaya juga? Karena dia tidak mau berubah,” kata pria yang kerap disapa Panglima TANI ini.

Namun, lanjut Moeldoko, masalah yang paling banyak dialami petani adalah persoalan manajerial dan pasca panen. Kebanyakan petani hingga saat ini tidak terbiasa untuk memanage. Berikutnya persoalan harga yang selalu dihadapi petani dari waktu ke waktu.

“HPP enggak tau, ongkos tenaga enggak dihitung. Kalau dia bertani jagung, kedelai, apalagi padi. Padi itu enam jam setelah panen harus dikeringkan, kalau tidak akan rusak. Ada kira-kira 10 persen yang lolos saat panen dengan cara tradisional. Dengan teknologi mekanisasi, lost-nya berkurang menjadi 3%,” papar Moeldoko.

Persoalan-persoalan itulah yang membuatnya memutuskan terjun ke pertanian untuk turut mencari solusinya. “Setelah pensiun, saya ingin berbuat sesuatu. Pertama ingin mengubah mindset. Bagaimana mengajak petani berpikir progresif, bukan tradisional. Bukan yang pasrah dan berpikir ingin kaya saja tidak berani. Kedua, mengubah metode petanian. Metode yang saya jalankan dengan tagline “mudah, murah, melimpah”.

“Mudah know how-nya, murah modal kerjanya, dan melimpah hasilnya,” jelasnya.

Bersama HKTI, Moeldoko mencoba memberikan solusi persoalan tersebut. Bagaimana menghadapi tanah yang sempit dan rusak? HKTI lakukan upaya pemuliaan tanah.

“Tanah yang rusak kita perbaiki dengan pendekatan organik. Kita pastikan tanah itu menjadi baik. Tanah sempit kita buat kluster-kluster. HKTI juga memberikan petani pupuk dan benih sehingga petani enggak perlu lagi pusing,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, HKTI juga memberikan pendampingan, usaha manajemen dan teknologi sehingga petani bertani berteknologi. Manajemen pertanian. “Soal pasca panen. Kami beli mau panen berapapun. Harganya 10 persen di atas harga pasar,” tutur Moeldoko.

“Ini bukan berarti kami jadi pengijon, karena misi sosial kami adalah memuliakan bumi, meningkatkan produktivitas, dan menyediakan asupan makanan sehat bagi generasi muda ke depan. Ini bisa diadopsi, mau di sayur mayur, apa saja bisa,” tegasnya. (mc)

Reporter: Pauline dan Bonita