Kementan Jamin Bulog Serap Gabah Petani Secara Komersial

oleh

HKTI.ONLINE — Kementerian Pertanian menjamin bahwa Bulog akan membeli gabah dari para petani dengan harga komersial guna memastikan gabah petani dapat terserap secara maksimal. Target serapan Bulog berkisar 3,7 juta ton.

“Kami menegaskan bahwa Perum Bulog bakal membeli gabah petani berapapun jumlahnya dengan harga komersial yang berlaku di pasar saat itu,” kata Antarjo Dikin, kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Badan Karantina Pertanian Kementan dalam Gerakan Panen dan Serap Gabah di Dusun Sanding, Desa Sandingtaman, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jabar, kemarin (25/1).

Antarjo berharap komitmen Bulog dapat terjaga dengan petani. Dengan begitu maka pembelian gabah oleh oknum tengkulak nakal bisa dihindari.

“Sehingga petani diminta untuk tidak ragu menjual kepada Perum Bulog juga tidak perlu mencari pedagang lain, karena pemerintah menjamin perlindungan harga atas hasil usaha pertanian,” ujarnya.

Perum Bulog sendiri optimistis target penyerapan beras 3,7 juta ton dapat tercapai dengan meningkatkan pengadaan beras dari petani melalui kerangka bisnis komersial, tidak lagi berorientasi pada penugasan pemerintah atau  Public Service Obligation (PSO). Hal ini disampaikan Direktur Pengadaan Bulog Andrianto Wahyu Adi tentang situasi perberasan nasional 2018 beberapa waktu lalu di Jakarta.

Ia menambahkan tahun ini Bulog tidak memiliki kewajiban untuk menyalurkan beras sejahtera (rastra) kepada masyarakat mengingat pemerintah mengubah program tersebut menjadi bantuan sosial (bansos) nontunai.

Oleh karena itu, Bulog akan memfokuskan penyaluran beras dalam bentuk bisnis komersial. Bulog juga berupaya mendekatkan ke petani dengan membentuk satuan kerja, bekerja sama dengan pengepul dan pengering di daerah.

“Penyaluran sebagian besar dalam komersial. Maka mutu sesuai dengan standar akan menjadi sesuatu yang kami perhatikan sekali,” ungkapnya.

Saat ini harga Gabah Kering Panen (GKP) di kisaran Rp 5.400-5.600 per kilogram. Adapun harga Gabah Kering Giling (GKG) berkisar antara Rp 6.000-7.000 per kilogram.

Harga tersebut cukup baik bagi petani. Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Jenderal (Purn) Moeldoko, beberapa waktu lalu juga menyatakan bahwa harga gabah baru panen yang tinggi merupakan kenikmatan bagi para petani padi.

Moeldoko pun mengingatkan bahwa selama ini jika panen raya petani tidak pernah mendapatkan keuntungan maksimal. Oleh karena itu ia menyatakan biarkan petani menjual dengan harga komersial dan jangan dibatasi harus sesuai harga pokok penjualan yang ditetapkan pemerintah.

Serangan fajar tengkulak

Pada kesempatan lain, Ketua Tim Upaya Khusus Swasembada Padi, Jagung dan Kedelai Provinsi Jawa Barat dari Kementerian Pertanian (Kementan), Banun Harpini, mengingatkan petani agar berhati-hati dengan kemungkinan munculnya tengkukak.

Banun mengakui peran oknum tengkulak dalam memainkan harga gabah di pasaran. Bahkan ia pun khawatir oknum tengkulak ikut mempengaruhi serapan gabah dalam musim panen kali ini.

Akan tetapi ia menegaskan bahwa Bulog akan mengambil peran pembelian gabah dari petani. Memasuki masa panen raya padi pada periode Februari hingga Maret, target serapan gabah Bulog diprediksi mencapai hingga 3,7 juta ton.

“Kami tidak ingin dengar ketika puncak panen harga malah jatuh. Panen itu Februari-Maret, kami mulai safari sawah mana saja yang gabahnya diserap Bulog agar tidak jatuh harga,” kata Banun kepada wartawan di Tasikmalaya, Jabar, kemarin.

Ia pun mengingatkan petani supaya menjaga komitmen pembelian gabah dengan Bulog. Sebab, ia mensinyalir ada oknum tengkulak yang berusaha mendekati petani agar tak menjual gabah ke Bulog.

“Komitmen petani perlu dijaga. Biasanya pindah ke lain hati walau sudah janji sama Bulog. Katakan dibeli Bulog dengan harga Rp 5.500 gabah kering. Ada yang datang ‘serangan fajar’ sebelum Bulog nanti ditambahin Rp 10 rupiah per kilo. Eh terus malah pindah (jual ke tengkulak, Red),” ujarnya.

Ia menekankan perlunya stok serapan gabah yang dimiliki Bulog. Tujuannya guna menghindari impor beras sekaligus menjaga stok beras nasional. “Makanya kalau tidak ingin impor, pemerintah harus ada stok dari serapan gabah yang disimpan Bulog. Tidak tuntut semua disetor ke Bulog, walau kami berharap begitu. Tapi perlu ada kesadaran bersama (jangan semua gabah di jual ke tengkulak, Red),” tuturnya. (mc)