Jokowi Kucurkan Rp 2,7 Triliun untuk Kedaulatan Rempah-rempah

oleh

HKTI.ONLINE – Kementerin Pertanian mengalokasikan dana Rp 2,7 triliun untuk mengembangkan rempah-rempah. Menurut Mentan Amran Sulaiman, pengalokasian tersebut atas permintaan Presiden Joko Widodo.

Presiden ingin mengembalikan kejayaan rempah Indonesia. “Kami sudah siapkan bibit-bibit unggul dengan anggaran itu diminta Bapak Presiden Rp 2,7 triliun. Kita akan kembalikan kejayaan Indonesia,” ujar Amran, Kamis (1/2) di Jakarta.

Ia mengatakan bahwa pada dasarnya di tahun 1602 Indonesia memiliki bahan rempah-rempah yang berlimpah. Amran pun berkeinginan mengembalikan kondisi tersebut.

Langkah ini juga sebagai upaya untuk meningkatkan nilai ekspor Indonesia dalam jangka panjang. Sebab komoditas pala, cengkeh dinilai dapat meningkatkan ekspor.

“Ke depan, jangka panjang, ini Perintah Bapak Presiden itu mengembalikan kejayaan rempah-rempah. Karena ini komoditas ekspor, selain sawit, kopi. Ini pala, cengkeh, kita dorong,” kata Mentan.

Kedaulatan rempah-rempah

Beberapa waktu Presiden Joko Widodo menyatakan, Indonesia sebagai negara yang memiliki kekuatan cadangan rempah rempah yang besar tidak ingin kalah bersaing dengan negara lain. Hal ini mendorong Jokowi untuk memperbaiki kedaulatan rempah-rempah dengan memprioritaskan pembenahan pada perkembunan rempah-rempah.

Jokowi mengatakan mulai tahun 2017 melalui pemetaan yang sudah dilakukan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang serta Kementerian Pertanian maka pemerintah akan mengembangkan sektor sektor rempah di Indonesia. Jokowi mengatakan pemerintah telah mengagarkan dana untuk peningkatan potensi rempah Indonesia sebesar Rp 2,4 triliun pada tahun 2017 ini dan Rp 3 triliun pada 2018 mendatang.

“Jangan sampai kita kalah sama Filipina, kopi kalah sama Brazil, pala kalah sama vietnam. Nah ini mau kita benahi pelan pelan tahun depan,” ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan pada tahun 2017 telah diberikan bantuan benih komoditi perkebunan sebanyak 35,5 juta batang. Bantuan benih tersebut antara lain, benih kopi 4,8 juta batang, benih pala 2,7 juta batang, benih lada 2 juta batang dan benih karet 5,7 juta batang.

Sedangkan untuk tahun 2018 dengan anggaran sekitar Rp 3 triliun direncanakan bantuan benih sekitar 40 juta batang diprioritaskan tanaman rempah seperti pala, lada, cengkeh serta kopi dan karet. “Kita ingin petani kita berdaulat dan Indonesia kembali berjaya dalam kedaulatan rempah,” ujar Jokowi.

Program kedaulatan rempah-rempah ini merupakan salah satu program strategis pemerintah, khususnya untuk pasar ekspor. Sehingga ini juga menjadi salah satu fokus perhatian Kepala Staf Kepresiden (KSP) Moeldoko untuk memonitor dan mengakselerasikannya sehingga dapat berjalan lancar, cepat, dan tanpa hambatan.

Produksi dan ekspor

Buah pala

Menteri Amran optimis program ‘Rempah Indonesia Berjaya di Dunia’ akan tercapai. Indikasinya tercermin dari peningkatan produksi dan ekspor dari salah satu komodits saja yaitu pala. Devisa yang dihasilkan dari ekspor lada di tahun 2016 mencapai 431,14 juta dolar AS.

Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementan, Suwandi, mengungkapkan bahwa produksi lada tahun 2016 mencapai 82,17 ribu ton. Besarnya produksi ini naik 0,82 persen dari produksi tahun 2015 yang hanya mencapai 81,50 ribu ton. Sementara produksi lada di tahun 2017, diperkirakan meningkat 0,97 persen ata 82,96 ribu ton dari tahun 2016.

“Dari besarnya produksi tersebut, di tahun 2016 total ekspor lada Indonesia 53,10 ribu ton. Ekspor lada pada periode Januari hingga Agustus 2017 mencapai 27,46 ribu ton atau naik 16,57 persen dibanding pada periode yang sama di tahun 2016 yang hanya 23,56 ribu ton,” ungkap Suwandi pada akhir tahun lalu.

Ia menegaskan bahwa sesuai kebijakan pengendalian impor dan upaya mendorong ekspor, hasilnya sudah terlihat dari peningkatan volume ekspor tersebut diikuti dengan penurunan volume impor.

Impor lada pada periode Januari hingga Agustus 2017 hanya 690 ton, sedangkan impor lada pada yang sama tahun 2016 tinggi, yakni 2.663 ton. “Artinya volume impor lada menurun signifikan, yaitu 74 persen. Ini membuktikan kondisi pertanaman lada Indonesia memiliki potensi untuk dikembangkan sehingga bisa berjaya lagi seperti waktu 500 tahun lalu,” sebutnya.

Suwandi menyebutkan, terdapat lima provinsi penghasil komoditas lada yaitu Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Lampung merupakan penghasil utama lada dengan kontribusinya terhadap produksi nasional sebesar 58,32 persen.

“Sementara Provinsi Sumatera Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan kontribusinya terhadap produksi nasional sebesar 41,68 persen,” sebut dia.

Adapun potensi pasar ekspor lada Indonesia ke luar negeri cukup besar. Pasalnya terdapat negara-negara yang volume impornya sangat tinggi. Seperti, Amerika Serikat, Eropa, termasuk beberapa negara Asia seperti Vietnam, India, Thailand, dan Jepang. (mc)