Jepang Perlu Lahan untuk Investasi Pabrik Tepung dan Budidaya Pisang

oleh

 

Pisang kepok

HKTI. ONLINE — Sebuah lembaga penelitian Jepang, Joint Company Research Institute menjajaki kemungkinan membangun pabrik pengolahan tepung pisang di Indonesia. Lembaga itu juga sekaligus berkeinginan melakukan investasi di bidang budidaya pisang dan singkong (tapioka).

Keinginan itu diungkapkan Atase Pertanian Indonesia KBRI Tokyo, Sri Nuryanti, usai bertemu Kato Yosuke, perwakilan Joint Company Research Institute, di Tokyo.

“Kedatangan Kato bermaksud untuk memperoleh informasi investasi di Indonesia, khususnya di bidang hortikultura. Kato memerlukan lahan untuk membudidayakan tanaman pisang kepok dan juga mendirikan pabrik pengolahan tepung pisang dengan kapasitas produksi 10 ton/bulan,” ujar Nuryanti melalui keterangan tertulis, akhir pekan lalu.

Tidak disebutkan besaran investasinya. Namun Nuryanti mengungkapkan, untuk mendukung kapasitas produksi tepung sebanyak itu, diperlukan pisang segar sebanyak 50 hingga 60 ton/bulan. Nantinya, tepung pisang ini akan diekspor ke Jepang.

“Izin ekspor tepung pisang asal Indonesia ke Jepang sudah kami peroleh, sehingga rencana investasi ini akan memperluas akses pasar produk tepung pisang asal Indonesia ke Jepang,” katanya seperti dilansir laman suarakarya.

Selain akan berinvestasi untuk agribisnis pisang kepok, Kato juga mencari sumber produksi tepung tapioka dari Indonesia. Menurut dia, tepung tapioka ini digunakan sebagai bahan baku minuman bernilai tinggi di Jepang.

Lebih jauh Kato menanyakan perihal perizinan dan mekanisme kepemilikan lahan bagi investor asing di Indonesia.

“Semua pertanyaan itu dijelaskan oleh Attani bahwa untuk penanaman modal asing di subsektor hortikultura maksimal 30 persen dari total nilai investasi. Untuk itu, Kato harus mempunyai partner usaha di Indonesia,” katanya.

Attani KBRI menerima pimpinn Joint Company Research Institute

Berdasarkan laporan Attani (Atase Pertanian Indonesia) kebutuhan data dan informasi yang diperlukan bagi Kato terkait rencana investasi tersebut, antara lain, kriteria lahan, mengingat ekspor produk tepung pisang ke Jepang harus punya akses yang baik ke pelabuhan ekspor baik udara maupun perairan.

“Oleh karena itu, kami meminta data pendukung yang lengkap dari pihak Kato untuk disampaikan kepada Kementerian Pertanian guna menjembatani rencana investasi tersebut,” katanya.

Kato menyebut alasan Joint Company Research Institute berinvestasi adalah karena perusahaan agribisnis ini sangat berpengalaman dalam memasarkan dan mendistribusikan tepung pisang organik 100 persen yang bebas gluten dengan brand Bana Slim.

“Dengan berinvestasi di Indonesia, kita berharap ke depan dapat memenuhi permintaan impor tepung pisang dengan produk yang memenuhi standar kualitas dan peraturan pelabelan di Jepang,” tutup Nuryanti. (MC)