Jabar Mulai Gerakan Panen Raya dari Sekitar 550 Ribu Hektare

oleh

HKTI.ONLINE — Provinsi Jawa Barat sudah mengawali musim panen raya padi 2018 yang dimulai dari Kabupaten Cianjur. Hingga Maret akan ada empat sampai lima kabupaten sentra beras yang akan panen raya yaitu Cianjur, Sukabumi, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis.

Luasan sawah yang siap panen hingga Maret lebih dari 550 ribu hektare. Dari hasil itu, Jabar siap memasok kebutuhan beras nasional.

“Kami pantau sentra-sentra produksi di Jawa Barat sudah mulai panen,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan, Banun Harpini, usai kegiatan Gerakan Panen dan Serap Gabah Petani di Desa Karangsari, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, kemarin.

Ia mengatakan, gerakan panen raya pertama dilaksanakan di Kabupaten Cianjur, lalu Kabupaten Sukabumi, dan Garut. Selanjutnya menyusul Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis.

Panen raya yang dilaksanakan itu, kata Banun, merupakan daerah yang memproduksi padi dalam jumlah besar setiap panennya. “Jawa Barat ini sebagai tiga provinsi sentra padi di Indonesia,” katanya.

Menurut Banun, pada Januari luas panen di Jabar diprediksi mencapai 100 ribu haktare dengan produksi gabah rata-rata 600 ribu ton. Selanjutnya, kata dia, pada Februari musim panen raya mencapai puncaknya dengan luasan 222 ribu hektare dan Maret 245 ribu hektare.

Ia menambahkan, jajarannya siap melakukan pendampingan dan bantuan hilirisasi produk pertanian untuk percepatan perwujudan kedaulatan pangan sehingga petani mendapatkan nilai tambah. “Petani mendapatkan nilai tambah dan jaminan pasar yang pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan,” katanya.

Jawa Barat mulai mengawali musim panen raya di Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, pekan lalu. “Yang dipanen luasannya mencapai 27 hektare,” ujar Banun Harpini.

Total lahan pertanian di Kecamatan Warungkondang mencapai luas 117 hektare. Banun melanjutkan, produksi padi dari satu hektare itu rata-rata mencapai 6,5 ton. Selepas Cianjur daerah lainnya di Jabar akan menggelar panen raya mulai Januari, Februari dan Maret 2018.

Terkait rencana impor beras ungkap Banun, khusus di wilayah Cianjur dinilai masih surplus produksi beras. Hal ini, kata dia, didasarkan laporan dari Pemkab Cianjur. ”Masalahnya Indonesia negara kepulauan, di mana distribusi stok beras yang harus dijaga secara nasional,” jelas Banun.

Ditambahkan Banun, Jabar selalu mengirim berasnya ke provinsi lain. Di sisi lain, lanjut dia, pada panen raya ini juga dilakukan serapan gabah petani di Warungkondang. Bulog membeli harga gabah kering panen sebesar Rp 5.500 per kilogram.

Banun menerangkan, pada musim hujan seperti saat ini pemerintah mengarahkan Bulog untuk menyerap gabah. Langkah ini kata dia dilakukan agar petani tidak mengalami kerugian ketika memproses gabah ke beras.

 Panen Setiap Bulan

Berkaitan dengan panen raya, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) berharap pemerintah ke depan dapat mendorong petani untuk bersedia menanam padi menggunakan bibit varietas unggul. Dengan begitu petani bisa menghasilkan panen lebih banyak sehingga pemerintah tidak kekurangan stok beras dan melakukan impor.

Bila selama ini alasan impor adalah kekurangan stok, maka ke depan harus dicarikan solusinya. “Produksi harus makin ditingkatkan. Bila selama ini petani menghasilkan 5-6 ton per hektare, maka harus diupayakan menghasilkan 8-9 ton per ha. HKTI sudah mengembangkan varietas padi unggul ini,” ujar Ketua Umum HKTI, Jenderal (Purn) Moeldoko beberapa waktu lalu di Jakarta.

Untuk menjaga stok juga bisa dilakukan lewat kebijakan panen setiap bulan. “Perlu dipahami, berdasarkan grafik nasional, panen yang paling bagus adalah Januari sampai April. Karena fotosintesisnya bagus, curah hujan juga bagus. Sekitar Maret-April adalah peak panen,” kata Moeldoko.

Kemudian grafik panen setelah April hingga Agustus cenderung menurun. Oleh sebab itu, harus dilakukan upaya agar grafik panen ini tidak naik turun, melainkan selalu ada panen di setiap bulan.

“Jadi solusinya harus tiada hari tanpa panen. Harus selalu ada panen. Selain itu, perlu dibangun storage-storage di daerah-daerah untuk cadangan beras selain mengandalkan gudang milik Bulog,” ujar mantan Panglima TNI ini. (mc)