HKTI Raih Penghargaan Terbanyak di Taiwan

oleh

HKTI.ONLINE — Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menerima penghargaan terbanyak dari 15 negara peserta acara Sustainable Development of Food and Agriculture yang berlangsung 1-14 November 2018 di Taiwan.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Kementerian Luar Negeri Taiwan (Republic of China) dan juga International Cooperation and Development Fund (ICDF). Acaranya bertujuan untuk mengenalkan pertanian Taiwan sekaligus menjawab tantangan ketahanan pangan yang dihadapi oleh semua negara saat ini, seperti permasalahan harga, perubahan iklim, urbanisasi dan degradasi kualitas tanah, globalisasi, karantina hingga mekanisasi pertanian.

HKTI yang hadir mewakili petani dan pegiat pertanian Indonesia menerima banyak pengharaan atas kiprahnya dalam berbagai kegiatan, inovasi, dan kreativitas dalam usaha memajukan petani dan pertanian Indonesia termasuk dalam hal penggalakan pertanian sistem organik.

HKTI mengalahkan 23 peserta dari Afrika Selatan, Swaziland, Pulau Marshall, Filipina, Bangladesh, Pulau Solomon, Tuvalu, Vietnam, Papua Nugini, Zambia, Kerajaan Eswatini, Haiti, Santa Crhistopher dan Nevis, Santa Lucia, Santa Vincent dan Grenadines.

“Menjadi suatu kebanggaan bagi kami dapat membawa merah putih mendapatkan penghargaan terbanyak dari seluruh petani dan pegiat pertanian dari 15 negara. Kegiatan selama 14 hari tentunya kami harapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pertanian dan kesejahteraan petani di Indonesia,” kata Bendahara Umum Pemuda Tani HKTI, Jandi Mukianto dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (14/11).

Dalam kesempatan itu, Jandi juga menyampaikan, rencana HKTI menyosialisasikan pertanian dan produk pertanian yang ada di Taiwan kepada petani Indonesia. Terutama, menjelaskan pentingnya organik dan juga pertanian generasi ketiga yang mengusung wisata agri untuk menambah penghasilan petani.

HKTI di bawah kepemimpinan Moeldoko adalah sebuah organisasi sosial di Indonesia yang berskala nasional, berdiri sendiri dan mandiri yang dikembangkan berdasarkan kesamaan aktivitas, profesi, dan fungsi di dalam bidang agrikultur dan pengembangan pedesaan, sehingga memiliki karakter profesional dan persaudaraan.

HKTI didirikan pada 27 April 1973 di Jakarta melalui penyatuan 14 organisasi penghasil pertanian utama.

Tujuan HKTI adalah meningkatkan pendapatan, kesejahteraan, harkat dan martabat insan tani, penduduk pedesaan dan pelaku agribisnis lainnya, melalui pemberdayaan rukun tani komoditas usaha tani dan percepatan pembangunan pertanian serta menjadikan sektor pertanian sebagai basis pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan tujuan nasional sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.

Tren Organik

Kegiatan Development of Food and Agriculture di Taiwan fokusnya terutama membahas tren dan perkembangan terbaru dalam pertanian organik di kawasan Asia.

Dalam beberapa tahun terakhir, pertanian organik telah meningkat pesat di seluruh dunia. Penjualan makanan organik global diperkirakan mencapai US $ 26 miliar pada tahun 2003. Jepang memiliki pasar ketiga terbesar untuk makanan organik di sebelah UE dan AS.

Di Asia, total area di bawah pengelolaan organik hanya 0,33 persen dari enam benua di dunia pada tahun 2001. Namun, meningkat menjadi 4 persen pada tahun 2004, peningkatan sepuluh kali lipat dalam jangka waktu tiga tahun.

Menurut IFOAM (2003), luas lahan di bawah pengelolaan organik di Asia yang terbesar adalah di Cina (301.295 ha) diikuti oleh Indonesia (40.000 ha), Sri Lanka (15.215 ha), Jepang (5.083 ha), Thailand (3.429 ha), Pakistan (2,009), Taiwan (1.092 ha), Republik Korea (902 ha), dan Malaysia (131 ha).

 

Hukum standar organik sangat penting untuk menjamin kualitas produk organik. Baru-baru ini, Jepang merevisi peraturan standar organiknya menjadi undang-undang yang diatur secara ketat, di mana hukuman ditambahkan untuk pelanggar peraturan pelabelan organik.

Negara-negara Asia lainnya (Cina, India, Israel, Republik Korea, Taiwan, dan Thailand) juga menerapkan peraturan organik mereka sendiri tetapi belum mengesahkan mereka menjadi undang-undang.

Di kutip dari laman panitia acara ini, disebutkan bahwa Malaysia telah menyelesaikan peraturannya, tetapi belum sepenuhnya menerapkannya, sementara Indonesia dan negara-negara Asia lainnya sedang dalam proses penyusunan peraturan atau tidak ada tindakan sama sekali dalam hal ini.

Di Taiwan, Dewan Pertanian (COA) secara resmi mengakreditasi tiga organisasi nonpemerintah (LSM) sebagai Organisasi Sertifikasi Makanan Organik. Hingga Juni 2003, total 1.092,4 ha lahan telah disertifikasi oleh organisasi-organisasi ini menjadi pertanian organik untuk memproduksi berbagai makanan organik (beras, sayuran, buah-buahan, teh, dan lainnya).

Impor makanan organik terutama dari Jepang dan AS meningkat di Taiwan dalam beberapa tahun terakhir. Makanan organik yang diimpor dan diproduksi secara lokal dijual di supermarket, toko makanan kesehatan organik, dan toko rantai skala agribisnis dan melalui e-commerce.

Meskipun Taiwan memiliki standar organik resmi yang diumumkan pada tahun 2003, tidak ada peraturan hukuman bagi pelanggar hukum pada pelabelan organik, menimbulkan keraguan di kalangan konsumen tentang keandalan produk organik di pasar. (MC dari berbagai sumber)