Heboh Padi Raksasa Setinggi Dua Meter Milik Udin

oleh
Padi raksasa bisa setinggi dua meter/foto:detik.com

HKTI.ONLINE — Baru-baru ini, dunia pertanian cukup dihebohkan dengan munculnya kabar adanya padi raksasa. Beberapa media menyebutkan bahwa padi tersebut merupakan varietas baru jenis PM1. Tinggi tanamannya bisa mencapai dua meter.

Pemilik tanaman padi raksasa itu ialah Diaudin Aridowi alias Udin (24), warga Dusun Bebekan, Desa Combong, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Jatim. Padi yang ditanamnya tumbuh besar, tinggi padi itu bahkan melebihi tinggi badan Udin dan bulirnya pun banyak.

Udin menceritakan padi PIM1 ditanam pada awal Januari 2018 di atas lahan sekitar 140 meter persegi. Pada saat bersamaan, dia juga menanam padi varietas Javanos di lahan 125 meter persegi.

Padi PIM1 dipanen pada Senin (19/3/18) menghasilkan 13,35 kuintal gabah. Sementara padi Javanos dipanen lebih dulu karena masa panennya memang lebih pendek. Hasilnya gabah 7,5 kuintal.

“Perbandingan 1:2. Satu untuk padi Javanos, dua untuk PIM1,” kata Udin kepada detik.com di rumahnya, Sabtu (24/3/2018). “Modal bibit lebih irit PIM1. Lahan 140 meter persegi butuh 3 kg, sedangkan Javanos 4 kg untuk lahan 125 meter persegi,” tambah bapak satu anak ini.

Udin di tengah sawah miliknya/Foto;Detik.com

Udin menyebutkan bahwa ini merupakan uji cobanya sebab belum pernah ada yang menanam padi jenis PM1 ini. Padi ini berkarakter ‘raksasa’. Batang kokoh dan jangkung, bisa mencapai dua meter. Bulirnya juga banyak.

Ia menuturkan, bibit padi PM 1 itu ia dapatkan dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) bernama Boing Kristiawan, warga Ngegong, Desa Gedok, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar.

Masa panen padi jenis ini memang lebih lama dibanding padi pada umumnya, yakni 120 hari. Padahal, padi biasa hanya 105 hari.

“Kata teman saya, masa panen padi jenis ini memang lebih lama seminggu daripada padi biasanya. Tapi produksinya lebih banyak dan lebih tahan hama,” jelas Udin.

Kelebihan dari padi jenis PIM 1 ini, yaitu lebih banyak menghasilkan bulir. “Dalam satu batang bisa berisi 800 sampai 900 bulir padi. Kalau padi umumnya, satu batang hanya berisi 125 sampai 200 bulir,” ungkap Udin.

Bibit dia peroleh dari Boing seharga Rp 25 ribu per kilogram. Padi ini lebih cocok dengan pupuk alami seperti pupuk kandang atau kompos. Jadi sangat minimum penggunaan bahan kimia.

Pada awal menanam, Udin pernah bertekad bahwa jika hasilnya sepadan dengan masa tanam dan panen, maka ia akan meneruskan menanam padi jenis PM 1 ini di lahan yang lebih luas. Para petani di daerahnya menurut Udin, akan menanam padi jenis serupa.

Berita tentang padi raksasa di Blitar ini muncul setelah fotonya viral di media sosial. Ternyata yang memiralkan adalah Udin sendiri. “Kemarin yang mengunggah foto padi dua meter di Facebook itu benar saya mas. Memang saya unggah agar masyarakat terutama petani tahu kalau ada padi jenis istimewa seperti ini,” ungkap Udin seperti dikutip Jatimtimes, kemarin.

Udin yang lahir dari keluarga petani ini mengatakan bahwa benih padi itu hasil percobaan petugas PPL yang menjadi temannya yang memang pandai menyilang-nyilangkan tanaman padi. Jenis PIM 1 ini, lanjutnya, merupakan pengembangan padi purba atau yang orang zaman dahulu menyebutnya sebagai padi Gogo.

“Kalau padi purba atau padi gogo zaman dahulu memang setinggi ini. Namun kelemahannya sering gagal panen karena tangkainya kecil, sehingga kena angin sedikit gampang roboh dan akhirnya mati,” tutur Udin.

Menurut Udin, beras PIM 1 rasanya lebih enak juga. “Maka dari itu saya beri tahu petani kalau ingin produksinya melimpah bisa mencoba. Meski ini masih benih percobaan tapi memang benar kelihatannya nyata produksi lebih banyak kalau dari pengalaman saya,” ujarnya.

Udin menimbang gabah PIM1/Foto: Jatimtimes

Pada Sabtu (24/3/2018), Udin dan keluarganya menjemur gabah PIM1. Bulirnya lebih besar dibanding jenis Javanos yang dipanen sebelumnya. Bentuknya cenderung oval, padat, dan warnanya cerah. Sebagian gabah PIM1 sudah digiling jadi beras.

Udin dan keluarga sempat disentil warga sekitar karena menanam padi yang masih dalam tahap uji coba. “Buang-buang uang dan waktu saja. Mbok mending nanam padi yang jelas, hasilnya jelas,” kata ibu Udin, Siti Badriah (56), menirukan ucapan tetangga-tetangganya.

“Tapi Alhamdulillah hasil panen bagus. Mirip beras organik. Rasanya lebih gurih, kalau orang dulu menyebutnya seperti beras Lulut,” pungkas Siti.

Seperti dilansir laman jatimtimes, Udin kini kewalahan melayani orang yang datang kepadanya untuk membeli gabah dari padi miliknya yang baru panen. Seperti terlihat pada Jumat (23/3/2018) dia tampak mengepaki gabah dalam karung dari pesanan orang untuk dijadikan bibit.

Para pemesan tidak hanya dari Blitar saja namun juga  dari luar kota mulai dari Bandung, Cirebon, Pemalang, Ngawi. Mereka langsung mendatangi rumahnya untuk membeli gabah padi unik miliknya.

“Saya sampai pusing melayani orang-orang terus berdatangan. Bahkan ada yang memaksa untuk membeli gabah yang masih basah untuk tetap dibeli,” ungkapnya.

Untuk bibit padi ini dia jual Rp 25 ribu per kilonya. Harga tersebut bahkan lebih murah dibanding padi pada umumnya seperti padi jenis Javanos yang perkilo bibitnya Rp 100 ribu. Hal ini membuat gabah yang dimilikinya hanya tersisa sekitar dua karung saja meski baru panen beberapa hari lalu.

“Saya tidak mau jual mahal sebab saya dapat bibit dari teman saya juga segini. Memang niat saya dari dulu mengunggah padi unik saya ke Facebook murni untuk membantu petani kalo ini lho ada padi yang menguntungkan panen bisa dua kali lipat dari biasanya. Dan sudah saya buktikan dari bibit padi purba atau PIM 1 ini dari lahan saya cengkal 100 dapat 1 ton 3 kwintal 35 kg, padahal biasanya hanya tujuh  sampai delapan kwintal saja,” katanya.

Mengutip laman Blitartimes diceritakan bahwa Bhabinsa Desa Gandekan Kecamatan Wonodadi Kabupaten, Sersan Mayon Sugianto juga turut memesan beberapa kilo gabah untuk bibit. Dia yang merupakan pendamping tani di desanya dimintai untuk mencari informasi adanya padi unik ini.

“Iya saya ke sini memang diberi tugas mencari bibit ini. Sebab dari panennya yang dikatakan dua kali lipat banyak warga saya yang ingin mencobanya dulu. Jadi saya beli beberapa kilo dulu untuk diuji coba oleh petani di desa nanti,” ungkap Sugianto.

Hingga sat ini belum ada tanggapan dari dinas terkait maupun pemerintah daerah mengenai pada raksasa ini.(mc)