FAO: Ternak Ayam Biosekuriti Tiga Zona untuk Cegah Kuman

oleh

HKTI.ONLINE — Pekan Kesadaran Antibiotik Dunia (World Antibiotic Awareness) diperingati pada 13 – 19 November 2017 mendatang. Berkaitan dengan tersebut, Badan Pangan dan Pertanian Dunia atau Food Agriculture Organization (FAO) bersama Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dari Kementerian Pertanian mengadakan sejumlah kegiatan, antara lain mengunjungi beberapa usaha peternakan ayam petelur di Tanah Air telah mengimplementasikan biosekuriti tiga zona.

Salah satu peternakan yang dikunjungi pada hari pertama adalah Waringin Farm milik Bambang Sutrisno atau yang akrab disapa Koh Ilung di Dusun Ngelo, Kelurahan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Secara lengkap, Penasehat Teknis FAO, Erry Setiawan menjelaskan manfaat dan bagaimana penerapan biosekuriti tiga zona di peternakan khususnya peternakan skala kecil menengah. “Prinsipnya itu adalah supaya kuman penyakit itu tidak masuk ke peternakan ayam,” ujar Erry Setiawan, awal pekan lalu.

Erry lebih lanjut menjelaskan, yang dimaksud biosekuriti tiga zona yaitu membagi area peternakan menjadi tiga area, yaitu zona merah, zona kuning, dan zona hijau. Zona merah adalah zona kotor. Sebelum memasuki area tersebut, peserta diharapkan mengganti alas kaki dan mencuci tangan terlebih dulu.

Setibanya di Zona Kuning, peserta disediakan baju khusus untuk dikenakan selama berkeliling di peternakan tersebut. Untuk memasuki zona hijau, peserta diharuskan mengganti kembali alas kaki.

Zona kuning, lanjut Erry juga dipahami sebagai area antara dunia luar yang kotor (zona merah) dan area bersih (zona hijau). Di zona ini juga diperuntukkan untuk orang yang sudah mandi, serta dipakai sebagai lokasi penyimpanan kotak telur yang sudah bersih.

Di zona hijau atau zona bersih adalah area terbatas. Hanya pekerja yang ditugaskan dan sudah berganti pakaian dan alas kaki yang boleh masuk. Peternak terkadang sering salah mengartikan biosekuriti hanya sekadar mencuci kaki, tangan, dan mengganti alas kaki.

“Peternak menjadi jelas mana area bersih dan mana area kotor. Kalau tidak seperti itu jadi sembarangan asal nyemprot, asal bersih jadi nggak jelas tujuannya,” jelas Erry kepada wartawan.

Penasehat teknis lainnya FAO lainnya, Alfred Kompudu menjelaskan, FAO berperan dalam membimbing 143 petugas Pelayanan Veteriner Unggas Komersial (PVUK) dari 12 provinsi. “Sebanyak 8.500 peternak dibina dari tahun 2011 hingga 2015,” ujar Alfred.

Sementara itu pemilik peternakan Waringin Farm, Koh Ilung, seperti dilansir laman Republika Online, mengaku sangat terbantu dengan adanya bimbingan penerapan biosekuriti tiga zona yang dilakukan oleh FAO melalui Petugas Pelayanan Veteriner Unggas Komersial (PVUK) dari Dinas Peternakan Kabupaten Semarang.

“Paling parah itu di tahun 2009, jadi waktu itu kandang saya belum ideal, belum biosekuriti dan terlalu bebas. (Ayam) saya kena penyakit, fatal sekali dari belasan kandang hanya dua kandang yang nggak kena penyakit,” tutur pria yang menjadi peternak sejak 1993 tersebut.

Konsep biosekuriti yang awalnya ia kira rumit dan mengawang-ngawang ternyata telah berdampak positif pada jumlah produksi telur yang dihasilkan. “Selama dua tahun ini bisa dikatakan saya zero kasus,” ucap Ilung. Hal itulah yang membuat dirinya sampai saat ini konsisten menerapkan biosekuriti tiga zona. (mc)