Alokasi APBN Bawang Putih akan Naik pada 2019 untuk Capai Swasembada

oleh

 

 

HKTI.ONLINE – Komitmen Kementerian Pertanian ( Kementan) untuk mewujudkan target swasembada bawang putih pada 2021 mulai membuahkan hasil.  Sentra-sentra produksi bawang putih pada periode 90-an yang pernah jaya seperti Temanggung, Tegal, Karanganyar, Malang, Lombok Timur kini bangun dari tidur panjangnya.

Tak hanya itu, sentra baru produksi bawang putih pun meluas. “Tak hanya di wilayah Jawa tetapi juga di luar Jawa seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, NTT, bahkan sampai ke Papua,” ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Suwandi di Jakarta, seperti keterangan tertulisnya kepada media massa, Rabu (5/12/2018).

Menurut Suwandi, sejak program menuju swasembada bawang putih digulirkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada 2017, telah terjadi peningkatan luas tanam yang signifikan.

Sebagai bukti, bertahun-tahun data luas tanam bawang putih tidak  beranjak dari kisaran 2.000-an hektar setahun, namun pada 2018 ditargetkan penanaman bawang putih lebih dari 10 ribu hektar yang berasal dari APBN dan wajib tanam importir.

“Artinya, naik 500 persen tanam  tahun ini. Tahun 2019 nanti kita akan kejar tanam 18 ribu hektare untuk mencapai swasembada benih,” tegasnya.

Oleh karena itu, Kementan akan menaikkan alokasi APBN khusus untuk bawang putih. Tercatat pada APBN 2017, telah dialokasikan anggaran untuk 3.273 ha di delapan kabupaten dan pada 2018 meningkat menjadi 5.949 ha yang tersebar di 79 kabupaten.

“Tahun depan kami upayakan minimal 10.000 ha lagi dari APBN dan 8.000 ha dari skema wajib tanam guna menggenjot produksi dalam negeri. Tentunya ini akan semakin memantik geliat bawang putih di dalam negeri,” tuturnya.

Lebih lanjut Suwandi menguraikan wilayah Sumatera yang selama ini tidak terdengar akan pengembangan bawang putih kini mulai bermunculan. Contoh di Aceh Tengah ada di enam wilayah, yakni Bener Meriah, Gayo Lues, Solok, Agam, Tanah Datar dan Solok Selatan.

Di Sumatera Utara malah muncul tiga sentra baru potensial yaitu Karo, Simalungun dan Humbang Hasundutan. Sentra baru juga mulai muncul di Merangin, Kerinci, Kepahiang, Rejang Lebong, Muara Enim hingga OKU Selatan.

“Wilayah gugusan Bali, Nusa Tenggara juga mulai bangkit lagi seperti di Tabanan, Bangli, lombok timur, di NTB, TTS di NTT. Pun dengan Zona Sulawesi di Bantaeng, Enrekang, Sigi, Donggala, Poso, Minahasa dan Minsel,” ungkapnya.

Perlu diketahui, sentra baru yang tumbuh dan berkembang umumnya menggunakan varietas lokal, seperti Lumbuh Hijau, Lumbuh Kuning, Lumbu Putih, Sangga Sembalun dan Tawangmangu Baru.

Rata-rata produktivitasnya 8 hingga 15 ton per ha dan bisa di panen setelah berumur 110  sampai 130 hari setelah tanam.  “Kami yakin, dengan melihat dinamika dan perkembangan lapangan, swasembada bawang putih bisa kami raih dan capai pada 2021,” kata Suwandi.

Dengan adanya program swasembada bawang putih, maka pada 2021 mendatang, Kementerian Pertanian berencana untuk menghentikan rekomendasi impor bawang putih. Menurut Suwandi, penghentian rekomendasi impor bawang putih ini dilakukan karena pada tahun 2021 ditargetkan sesudah swasembada bawang putih.

“Jadi 2021 tidak ada lagi istilah importir bawang putih, tetapi yang ada adalah pengusaha bawang putih yang bermitra dengan petani,” ujarnya.

Suwandi menyatakan, saat ini produksi bawang putih dalam negeri sedang difokuskan untuk menghasilkan benih dan untuk ditanam lagi dan disebar ke daerah lain. Impor benih bawang putih pun dilakukan supaya dapat di tanam di dalam negeri dan bisa mengejar target luas tanam bawang putih hingga bisa mencapai swasembada.

Di tahun mendatang, penanaman bawang putih pun masih difokuskan untuk mengasilkan benih. Namun, bawang putih yang tidak dijadikan benih akan dijual sebagai bawang putih konsumsi.

Suwandi pun optimistis target swasembada tersebut dapat tercapai di 2021. Menurutnya, swasembada dapat dicapai apabila semua pihak mendukung program ini.

Untuk mencapai target swasembada bawang putih ini, saat ini importir bawang putih diwajibkan untuk menanam bawang putih sebesar 5% dari volume impor. Meski tidak menyebutkan secara detail berapa besar realisasi tanam yang sudah dilakukan oleh importir, namun Suwandi mengatakan sudah ada 13 importir yang mendapat rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH) dan dua importir yang mendapat RIPH pada 2018 yang sudah mencapai target tanam.

“Memang belum besar, tapi bagi importir yang belum tanam sudah berkomitmen akan merealisasikan tanamnya paling lambat pada akhir tahun 2018 ini. Kan menyesuaikan dengan musim tanam yang cocok,” tutur Suwandi.

Selama ini 90 persen bawang putih di dalam negeri diperoleh dari impor. Dari 90 persen tersebut, 75 persen di antaranya diimpor dari China.

China dikenal sebagai penghasil bawang putih terbesar di dunia. Produksinya mencapai sekitar 20 juta setahun. Berikut adalah lima produsen bawang putih terbesar di dunia, yakni China, India, Korea Selatam, Rusia, dan Mesir.

Bawang putih merupakan komoditas dengan tingkat konsumsi yang   besar di Indonesia. Hal ini dapat dimaklumi. Manfaatnya memang tak hanya buat konsumsi rumah tangga. Bawang putih diketahui juga besar kegunaannya sebagai bahan baku industri pangan olahan, serta farmasi.

Tertinggal 20 tahun

Meski dikenal sebagai negara agraris, namun Indonesia pengetahuan tentang bawang putih di Indonesia masih tertinggal 20 tahun lebih dari negara lain. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto, beberapa waktu lalu.

Seperti dilansir Republika.co.id, Setyanto mengatakan bahwa pada akhir 2017 ia ditugaskan menteri pertanian mencari informasi tentang bawang putih di luar negeri untuk mendukung pengembangan bawang putih di Indonesia menuju swasembada 2019-2020.

“Kemudian kami kunjungi beberapa negara penghasil bawang putih terbesar di dunia, yakni China, Taiwan, Mesir, dan India,” ujarnya usai mendampingi tim dari Lembaga Penelitian Sandong China meninjau tanaman bawang putih di Desa Glapansari, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Mereka ingin melihat bagaimana kondisi tanaman bawang putih di Indonesia, ada tidak prospeknya ke depan untuk swasembada.

Ia mengatakan kalau dilihat seperti ini, untuk kualitas lokal ada yang kecil dan ada yang besar-besar walaupun jenisnya sama, artinya perlu teknologi dalam budi daya bawang putih ini. “Teknologi inilah yang harus kita cari, kita kejar supaya kita bisa menghasilkan siung yang besar-besar semua,” ucapnya.

Di sisi lain, ternyata petani juga bisa menghasilkan siung bawang putih yang besar, ini fakta di lapangan dan tidak ada manipulasi. Artinya harus ada teknologi, petani harus diberi ilmu pengetahuan bagaimana budi daya bawang putih agar menghasilkan siung yang besar supaya nanti bisa berdaya saing.

“Kalau melihat ukuran bawang yang besar ini, kami optimistis Indonesia bisa menghasilkan bawang putih berkualitas bagus. Sebelumnya saya sempat agak khawatir juga, kira-kira Indonesia bisa tidak, ternyata hasil di lapangan cukup bagus,” imbuhnya.

Menurut dia dibandingkan bawang putih impor, salah satu keunggulan bawang putih Indonesia rasanya lebih pedas. Satu siung bawang putih Indonesia sebanding dengan tiga siung bawang putih impor.

“Kalau untuk memasak cukup satu siung bawang putih Indonesia, sedangkan dengan bawang putih impor harus tiga siung,” ujarnya.

Namun, katanya, di Indonesia ini rata-rata ukurannya kecil-kecil, tetapi dengan teknik budidaya yang baik dan benar bisa menghasilkan yang besar-besar seperti di Desa Glapansari ini. Ia menuturkan kalau digunakan untuk obat bawang putih dari Indonesia sangat cocok karena kandungan alisinnya lebih tinggi. (mc)