Ada Gap Bahan Baku antara Industri dan Petani

oleh

HKTI.ONLINE – Ketersediaan bahan baku industri agro masih menjadi tantangan tersendiri di Indonesia. Sering ada gap antara industri dan petani. Oleh karena untuk produk-produk tertentu pengadaannya terpaksa harus melalui cara impor.

“Jadi, bahan baku menjadi mutlak ketersediaannya, sehingga ini harus jelas,” kata Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto di Jakarta, Kamis.

Panggah menuturkan, apabila industri agro diharuskan mengambil bahan baku dari dalam negeri, maka ketersdiaan, kualitas dan harganya perlu diperjelas.

Menurut dia, ketersediaan bahan baku industri agro perlu berkesinambungan, mengingat proses pengolahan industri agro tidak dapat berhenti seketika karena mengikuti musim panen.

“Industri kan ketersediaan bahan bakunya harus stabil, sementara produksi di pertanian itu tergantung musim,” ungkap dia seperti dikutip antaranews.

Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah mengeringkan hasil pasca-panen dari ladang, sehingga dapat disimpan ketika sutu saat diperlukan industri. “Kalau ini tidak dikerjakan, ini antara industri dan on farm ini ada gap di sini. Jadi tidak bertemu,” kata dia.

Untuk itu, lanjutnya, diperlukan fleksibilitas untuk beberapa produk tertentu antara penggunaan bahan baku dari dalam negeri dan impor, agar industri agro dapat terus berjalan.

Dia mencotohkan, misalnya jagung, industri pengolahan jagung kerap membutuhkan bahan baku jagung dengan spesifikasi tertentu, yang kerap tidak ada di Indonesia dan harus mengimpornya.

“Di industri ada syarat-syarat jagung tertentu. Sebenarnya kalau di dalam negeri ada, itu di dalam negeri sudah pasti lebih menguntungkan. Nah, kalau di dalam negeri tidak ada ini yang jadi masalah,” katanya. (mc)